Hal ini terjadi karena bangsa Arab dahulunya
adalah pengembara, benar-benar seperti keadaan mereka pada masa kini.
Pengembara-pengembara Arab itu terdiri dari pedagang-pedagang. S.
Alwi bin Tahir Al-Hadad menyatakan, jumlah mereka yang ada di
Koromandel (dalam sejarah kita kenal dengan nama Keling) sebanyak
850.000 orang. Bahkan di sepanjang pantai Malabar, jumlah mereka
lebih banyak lagi. Sedangkan mereka yang telah sampai di Cina
berjumlah puluhan ribu sehingga pemerintah Cina menyediakan
tempat-tempat tertentu untuk kediaman mereka di beberapa kota Cina.
Keterangan S. Alwi bin Tahir Al-Hadad tersebut
memberikan gambaran terjadinya jalinan keakraban antara wirausahawan
Arab dengan raja dan masyarakat Cina. Thomas W. Arnold menambahkan
hubungan niaga antara Arab dan Cina telah terjalin sebelum Rosululloh
saw lahir. Thomas W. Arnold memberikan gambaran betapa eratna jalinan
niaga Arab – Cina, setelah masa Rosululloh saw dengan mengutip
hadits Rosululloh saw dari Kanzu Ummal, Jilid V, hlm. 202, “Carilah
Ilmu walaupun di negeri Cina”.
Adapun kehadiran wirausahawan Arab di dataran
Cina karena bangsa Arab memiliki bahtera niaga yang mampu mengarungi
Samudra Arabia dan Perisa. Dalam penulisan sejarah, dinyatakan
kapal-kapal dagang pada masa kejayaan Islam berlayar sampai Samudra
Persia.
Pada Peta Bumi karya Al-Biruni, 973 – 1048 M,
pakar geografi Muslim menuliskan nama Samodra India sebenarnya adalah
Samodra Persia nama sebelumnya. Hanya setelah negara imperialis Barat
berkuasa, digantikanlah namanya menjadi Samodra India.
Demikian pula nol meridian semula melintas
Mekah, sebagai petunjuk arah kiblat. Kemudian oleh Keradjaan
Protestan Anglikan Inggris dialihkan lewat Greenwich London.
Dari sinilah ditentukan mata angin posisi
wilayah atau suatu negara dalam membaca peta bumi. Misalnya, Jepang,
Cina, Korea letak geografisnya di sebelah Timur dari Greenwich
London, dan sangat jauh, disebutnya “The Far East”. Demikian pula
posisi geografi Mekah dan Madinah sebenarnya terletak di sebelah
Barat dari Indonesia. Oleh karena itu, kiblat sholat menghadap ke
arah Barat. Namun bangsa Indonesia sekarang ikut menyebut Arabia,
atau Mekah dan Madinah serta Mesir sebagai wilayah Timur Tengah.
Artinya, berposisi dari Greenwich sebelah Timur dan di tengah.
Demikian pula bangsa Indonesia, Malaysia, Singapura, hailand,
Vietnam, Myanmar (Burma), menyebutkan sebagai kelompok negara-negara
Asia Tenggara. Tentu, penyebutan mata angin Tenggara ini dilihat dari
Greenwich London.
Pelayaran wirausahawan Arab Muslim menempuh
jalan laut niaga. Dari pulau Nikobar, Andaman, Maladiv (Maladewa),
berlayar ke Malaka sebagai pusat niaga Muslim di Asia Tenggara. Di
antara kapal-kapal wirasahawan Arab Muslim itu ada juga yang
mengubah perjalanannya sampai ke Madagaskar. Ada pula yang membawa
barang dagangan atau komoditi dari Afrika Selatan ke Guinea dan
sekitarnya. Kemudian kapal-kapal niaga Muslim tersebut kembali ke
Madagaskar.
Seluruh pantai lautan tersebut di atas, dahulu
dibawah pengaruh wiraniagawan Muslim yang datang dari Kholifah
Mu'awiyah, 661-750, ketika pusat pemerintahannya di Damaskus.
Kemudian pesisir Sindu India, sudah tersebar pula agama Islam.
Kambai dan Gujarat di India merupakan pusat
pedagang-pedagang atau wirausahawan dari Oman, Hadramaut dan Teluk
Persia sejak masa sebelum lahirnya agama Islam yang diajarkan oleh
Rosululloh saw. Hal ini menjadi lebih kuat jika diingatkan bahwa pada
abad ke-2 SM perdagangan dengan Sailan atau Sri Langka sudah
seluruhnya di tangan bangsa Arab.
Dalam masalah sejarah masuknya agama Islam ke
India, Thomas W. Arnold mengoreksi ketidakbenaran pernulisan sejarah
yang memberikan gambaran Islam di India dikembangkan oleh Mahmud
Ghanza, Aurangzeb, dengan kekerasan dan kekejaman. Pemaksaan khitan
oleh Haydar Ali dan Tipu Sultan. Dijelaskan hal tersebut tidah benar,
sejarah terjadinya 66 juta Muslim di India, dampak dari da'wah
persuasif, dan damai. Mulai diajarkan oleh wirausahawan atau
wiraniagawan Arab melalui jalan laut niaga.
Informasi sejarah tentang aktivitas pasar di
Arabia kurang banyak dipahami oleh sementara sejarawan di Asia. Hal
ini akibat sistem penulisan sejarah masih meniru Barat. Umumnya,
sejarawan Barat selalu mengecilkan peranan pasar di Arabia. Kemudian
lebih mengangkat dalam penulisan sejarah, peranan pasar di India atau
Cina.
Dengan kata lain, penjajah Barat dalam upaya
penaklukan kembali – reconquista terhadap Islam, tidak hanya
menjajah wilayah jajahan. Melainkan juga mencoba menjajah pola pikir
rakyat jajahan dengan cara mendistorsikan penulisan sejarah. Menurut
Anthony Smith dalam “Geopolitics of Information”, selain
melakukan distorsi penulisan sejarah juga dalam masalah berita pun,
Barat melancarkan “news imperialism” - penjajahan berita.
Sumber: Buku "Api Sejarah" karya Ahmad Mansur Suryanegara.
Sumber: Buku "Api Sejarah" karya Ahmad Mansur Suryanegara.