Jumat, 28 Februari 2014

Muhammad bin Abdulloh sebagai Wirausahawan

Suatu perubahan sejarah terjadi di Arabia di abad ke-7, diawali dengan menjadikan Muhammad sebagai Nabi dan Rosul. Sebelumnya, Muhammad berprofesi sebagai wirausahawan atau pedagang. Dengan kata lain, suatu perubahan besar terjadi meliputi berbagai bidang: hukum, tata sosial, ekonomi, politik, budaya, dan agama, serta hankam, ternyata dipelopori proses perubahan awalnya oleh seorang yang pada awalnya berprofesi sebagai wirausahawan di pasar. Pada umumnya, hal ini oleh para sejarawan kurang memerhatikan pasar sebagai sentra awal perubahan besar dalam suatu masyarakat.
Adapun pasar-pasar yang pernah dikunjungi oleh Muhammad bin Abdulloh ketika masih sebagai wirausahawan di sekitar Jazirah Arabia, yaitu:
1. Dumatul Jandal.
Pasar dekat Hijaz Utara yang berbatasan dengan Syiria. Merupakan pasar tahunan yang diramaikan pada sepenuh bulan Robi'ul Awwal.
2. Mushoqor.
Sebuah kota yang terkenal di Hijar, Bahrain. Di sini diselenggarakan pasar tahunan sepenuh bulan Jumadil Awwal.
3. Suhar.
Pasar di Oman merupakan pasar tahunan yang berlangsung selama lima hari di bulan Rajab.
4. Dabba.
Salah satu di antara dua kota pantai yang dijadikan pusat kegiatan pemasaran komoditi produk Cina, India dan kota-kota dari timur lainnya. Di sini, timbul pasar tahunan setelah pindah dari pasar suhar. Oleh karena itu, aktivitas pemasarannya terjadi pada akhir bulan Rajab. Para wirausahawan dari pasar Suhar setelah lima hari pada bulan Rajab, pada akhir bulan Rajab, pindah ke Dabba.
5. Shihir atau Maharoh.
Pasar tahunan Shihir ini di pantai antara Aden dengan Oman. Di sini dikenal dengan parfum Amber. Pasar tahunan diadakan pada Nisfu Sya'ban.
6. Aden.
Pasar tahunan Aden diselenggarakan pada puluhan pertama Romadhon. Di sini merupakan tempat pemasaran komoditi dari wilayah timur dan selatan.
7. San'a.
San'a nama ibukota Yaman. Pasar tahunan di sini dibuka sebagai kelanjutan dari Aden. Dilaksanakan dari puluhan kedua hingga akhir Romadhon.
8. Robiyah.
Salah satu kota Hadramaut. Pasar tahunan yang diselenggarakan pada nisfu atau pertengahan hingga akhir Dzulqo'idah.
9. Ukaz.
Pasar Ukaz terletak di Nejaz Atas. Pasar tahunan ini diselenggarakan bersamaan waktunya dengan pasar Robiyah Hadramaut, artinya dilaksanakan pada pertengahan hingga akhir Dzulqo'idah.
10. Dzul Majaz.
Pasar Dzul Majaz yang berposisi dekat dengan Ukaz. Pasar tahunan ini diselenggarakan setiap 1 – 7 Dzulhijjah.
11. Mina.
Mina sebuah pasar sebagai kelanjutan dari Pasar Dzul Majaz. Waktu pasar tahunan Mina diselenggarakan bersamaan dengan waktu Haji.
12. Nazat.
Pasar tempatnya di Khaibar dan pasar tahunan ini diselenggarakan dari puluhan pertama hingga akhir bulan Muharam.
13. Hijr.
Sebuah kota dari Yamamah. Adapun pasar tahunan ini diselenggarakan waktunya bersamaan dengan pasar Nazat, artinya dirayakan pada waktu puluhan pertama hingga akhir Muharam.


Demikianlah aktivitas pasar-pasar yang berada di Jazirah Arabia menurut sumber sejarah Al-Muhabber dan Mu'ajam al-Buldan dalam “Encyclopedia of Serah”, jilid II, diterbitkan oleh “The Muslim School Trust”, London. Di pasar-pasar inilah, Muhammad bin Abdulloh sebagai wirausahawan sering melakukan transaksi dagang, dengan wirausahawan dari Cina dan India. Saat it, istilah Nusantara Indonesia belum ada, hanya dikenalnya sebagai kepulauan India.
Akibat telah terhubungkannya niaga antara Cina, India, dan Kepulauan India atau Indonesia dengan rempah-rempahnya, melalui pasar-pasar tersebut di atas, memungkinkan agama Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 M. Dan seperti penulis kemukakan di atas, menurut Prof. Dr. D.H. Burger dan Prof. Dr. Mr. Prajudi, serta Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje dalam Islam Di Hindia Belanda, menyatakan bahwa masuknya agama Islam di Indonesia melalui jalan niaga, dengan jalan damai, dan tanpa disertai invasi militer.
Dalam Encyclopedia di atas dijelaskan pula bahwa Muhammad bin Abdlloh ketika berusia 12 tahun untuk kali pertamanya melakukan perjalanan niaga ke Syiria bersama pamannya, Abu Tholib bin Abdul Mutholib. Seorang wirausahawan termuda di antara rombongan wirausahawan Makkah. Dengan ikut sertanya, Muhammad bin Abdulloh, dalam kafilah wirausahawan Makkah, Abu Tholib menyatakan, “Aku akan selalu bersama dengannya, dan kami berdua tidak akan salah seorang meninggalkannya.”
Ketika rombongan wirausahawan Abu Tholib sampai di Busra, Syiria, berjumpala dengan Pendeta Nasrani, Bahira. Sebagai pendeta yang mukasafah, tiba-tiba Pendeta Bahira mengundang untuk santap makan bersama. Hal ini tidak pernah dikerjakannya terhadap wirausahawan lainnya. Oleh karena itu, Abu Tholib menanyakan hal tersebut, “Apa yang sebenarnya terjadi pada hari ini, wahai pendeta Bahira? Anda tidak pernah menjamu kami sebelumnya seperti sekarang ini.”
Jawabnya, “Anda semuanya adalah tamuku dan aku harus menjamunya,” hal ini terjadi pada 582 M. Ternyata setelah selesai santap makan, pendeta Bahira menanyakan siapa anak muda tersebut. Abu Tholib menjawab keponakannya. Selanjutnya, Pendeta Bahira memerlihatkan tanda pada badan anak muda ini, Muhammad bin Abdulloh, di antara kedua pundaknya terdapat lambang kerosulan - “Seal of Prophethood”. Kemudian, ia menyuruh Abu Tholib bersama rombongannya segera kembali ke Makkah. Kemudian, ia menyuruh Abu Tholib bersama rombongan segera kembali ke Makka. Pendeta Bahira berpesan, “Demi ALLOH bila ahudi melihatnya akan sangat berbahaya.” Pesan ini sangat diperhatikannya, dan Ab Tholib berusaha mendampinginya hingga benar-benar keponakannya dewasa.
Setelah Muhammad bin Abdulloh semakin dewasa, beliau mencoba pula untuk berdagang sendiri tanpa disertai oleh pamannya lagi. Kemudian, membawa barang dagangan Siti Khodijah ra. Kadang mendapatkan upah, kadang pula memperoleh “profit sharing” (bagi hasil sebagai partner). Di kalangan para niagawan, dijuluki sebagai ash-Shidiq (jujur) dan al-amin (terpercaya) dan berkarakter terhormat. Pada usia 25 tahun, menikah dengan Siti Khodijah ra pada 595 M.
Masyarakat jahiliyah meresahkan Muahmmad bin Abdulloh. Setelah menikah, pada usia 30 tahun, beliau sering melakukan kholwat di Gua Hiro, Jabal Nur. Kegiatan spiritual ini dilakukan karena masyarakat jahiliyah benar-benar kehilangan kesadaran kemanusiaannya. Di bawah kondisi yang demikian ini, beliau ingin sekali memanusiakan kembali manusia-manusia jahiliyah.
Namun, tidaklah berarti karena kholwatnya di Gua Hiro, perniagaannya dihentikan. Beliau tetap meneruskannya, baik di pasar sekitar Makkah, maupun keluar Makkah. Beliau pernah pergi untuk keperluan niaga ke Yaman, Najd, dan Najran. Pada Dzulhijjah, Muhammad bin Abdulloh melakukan kontak niaga yang sangat sibuk di Pasar Ukaz dan Dzul Majaz.
Apakah hal ini sebagai ajaran dalam Islam bahwa untuk menjadi pemimpin Islam, sebelumnya harus membekali diri memahami permasalahan niaga dan penguasaan pasar atau kekuasaan ekonomi.
Apakah hal ini pula yang menjadikan dasar sebab masuknya Islam pada abad ke-7 M, melalui pasar dan dilakukan dakwahnya oleh para wirausahawan dari Timur Tengah. Pasar tidak hanya melahirkan wirausahawan. Namun, dalam sejarah, ternyata melahirkan ulama dan pemimpin bangsa.
Pada masa perkembangan Islam di Nusantara Indonesia, dari pasar dan pesantren melahirkan kekuasaan politik Islam atau kesultanan, pada abad 9 – 15 M. Apakah hal ini dapat dipastikan, siapa yang menguasai pasar dan pendidikan atau pesantren, berarti menguasai kekuasaan politik.
Apakah para Wali songo menempati pusat dakwahnya di pantai, berarti profesinya sebagai wirausahawan, sekaligus merangkap sebagai penguasa pasar atau sebagai eksportir dan importir. Apakah karena penguasaan pasar dapat menguasai kekuasaan politik dan mengatur pula pengembangan ajaran agama Islam.
Kedudukan ulama secara struktural spiritual dinilai sebagai akhli waris para nabi dan rosul. Sebelumnya, para nabi dan rosul disiapkan dengan kemampuannya sebagai wirausahawan, tidaklah mustahil dalam upaya kemandiriannya, para ulama atau wali songo, profesinya sebagai wirausahawan seperti yang diwariskan oleh Rosululloh saw.

Sumber: Buku "Api Sejarah" karya Ahmad Mansur Suryanegara yang diterbitkan oleh Salamadani.

Jumat, 14 Februari 2014

Nusantara dalam Pandangan Pakar Peta Bumi Muslim

Sulaiaman as-Sirafi, wirausahawan Muslim dari Persia yang pernah mengunjungi Timur Jauh mengatakan bahwa pada abad kedua Hijriyah, di Sula atau Sulawesi terdapat wirausahawan atau pedagang Muslim. Hal ini dapat dipastikan, sebelum mencapai Maluku, singgah terlebih dahulu di Sulawesi. Adapun perdagangan utama di Indonesia Timur saat itu adalah rempah-rempah dan wangi-wangian. Kedua komoditi tersebut terdapat di Maluku dan sekitarnya. Keduanya sangat menarik pedagang-pedagang Islam atau wirausahawan Muslim dari Timur Tengah. Keterangan atau sumber sejarah ini hampir langka digunakan oleh para sejarawan.

Timbullah pertanyaan, mengapa nama-nama pulau di Indonesia yang letaknya jauh dari Arab, menggunakan nama yang berasal dari bahasa Arab. Jawabannya hal ini memberikan gambaran betapa besarnya pengaruh Islam terhadap penamaan peta dunia dan Nusantara di dalamnya. Dengan kata lain, jauh sebelum Barat pada abad ke-16 mulai terampil sebagai imperialis, terlebih dahulu Islam melahirkan cendikiawan Muslim, termasuk pakar geografi dalam pembuatan peta bumi.

Nama-nama pulau, samudra, semenanjung, bukit, semula menggunakan istilah atau nama dengan bahasa Arab. Misalnya “Gibraltar” semula “Jabal Thoriq”. Hal ini terjadi karena peta bumi diciptakan oleh pakar geografi Muslim Arab. Dengan adanya nama-nama berbahasa Arab memberikan gambaran betapa luasnya daerah pengaruh Islam pada masa lalu hingga memasuki Eropa. Akibatnya, di Nusantara Indonesia pun, terdapat nama-nama wilayah darat dan laut atau danau yang berbahasa Arab.

Misalnya “Jazirah Maluku” disebut demikian karena berasal dari “Jazirah al-Muluk”. Di Jazirah atau wilayah yang dikelilingi laut tersebut, dikuasai oleh para raja atau “al-muluk”. Pulau Sumatra disebut pula dengan Andalusia, asrtinya memiliki keindahan dan kesuburan, sama dengan Spanyol karena itu disebut sebagai Andalusia oleh Mu'awiyyah. Danau Toba berasal dari “Thoyyiba” artinya indah dalam bahasa Arab.

Dengan banyaknya nama wilayah berbahasa Arab dan banyaknya daerah hunian wirausahawan Islam dari Banda Aceh hingga pulau Banda sebagai bukti Nusantara Indonesia sudah mengadakan hubungan niaga dengan Arabia. Namun, dalam penulisan Sejarah Indonesia pada masa pemerintahan kolonial Belanda sering disebut sebatas hubungan niaga Timur Tengah dengan India dan Cina, tanpa disebutkan Nusantara Indonesia. Hal ini sebagai dampak dari sistem penulisan sejarah yang berdasar “Neerlando Sentrisme” ditulis dari sudut pandang dan peran Belanda.

Sebenarnya, mungkinkah hubungan niaga yang demikian itu tanpa melalui Nusantara Indonesia. Jika komoditi yang diperdagangkan saat itu adalah rempah-rempah, dan Nusantara Indonesia sebagai wilayah pemasok dan penghasil rempah-rempah yang orisinal. Mungkinkah terjadi jaringan niaga rempah-rempah tanpa melalui Nusantara Indonesia.

Realitas fakta dari nama-nama tempat yang menggunakan bahasa Arab, memandu bagi yang mempertanyakan dari mana datangnya agama Islam yang masuk ke Nusantara. Jika benar agama Islam berasal dari Gujarat India seperti yang dituturkan oleh Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje, tentu banyak pulau atau wilayah lain yang penting ditemukan daerah hunian pedagang Gujarat.

Namun, dalam kenyataan catatan sejarah, di kota-kota besar di Jawa ataupun di luar pulau Jawa hingga pulau Banda terdapat banyak pedagang Arab. Sebaliknya, sangat langka adanya wilayah hunian pedagan Gujarat, tidak dapat diragukan lagi di Nusantara dan dunia pada umumnya ditemukan fakta dan data justru adanya banyak pedagang atau wirausahawan Cina.

Untuk dapat memahami masuknya agama Islam melalui jalan niaga yang berdampak terjadinya berbagai perubahan kemasyarakatan di Nusantara Indonesia, terlebih dahulu dibahas tentang terjadinya perubahan besar secara totalitas masyarakat Timur Tengah akibat adanya kebangkitan Islam. Suatu perubahan besar yang menjadikan Islam yang diajarkan oleh Rosululloh saw sebagai contoh terbaik - “uswatun hasanah” yang berhasil menciptakan dan mengaplikasikan perubahan hukum, sosial, ekonomi, politik, budaya, serta ketahanan dan pertahanan.

Sumber: Buku “Api Sejarah” karya Ahmad Mansur Suryanegara, terbitan Salamadani.