Jumat, 07 Maret 2014

Muhammad sebagai Rosululloh

Muhammad bin Abdulloh adalah manusia biasa. Sama dengan manusia yang lainnya. Terlahir dari ibu, Siti Aminah dan ayah, Abdulloh, pada 570 M di Makkah. Bedanya sebagai Rosululloh saw beliau menerima wahyu dari ALLOH, yang disampaikan melalui Malaikat Jibril as (QS. 18:111).


Awal turunnya wahyu di Jabal Nur, 610 M, Gua Hiro (QS. 96: 1-5). Wahyu yang bernilai “hudal lin naas” - petunjuk yang bermuatan ajaran memanusiakan kembali manusia, untuk menjadikan manusi bertauhid (QS. 2:184). Turunnya wahyu pertama terjadi pada urutan bulan Hijriyah ke sembilan, Romadhon, 610 M. Saat menerima wahyu Rosululloh saw berusia 40 tahun.


Wahyu yang mengingatkan adanya dua energi yang dimiliki manusia yang hakikat awalnya ruhaniah atau non fisik sebagai “nur”. Diingatkan manusia diciptakan oleh ALLOH, telah ada sebelum ada atau dalam bentuk ruh (QS. 19:9). Kemudian, mewujudkan dirinya menjadi manusia yang memiliki fisik atau berjasmani yang berawal dari darah (QS. 96:2) Darah yang menjadi dasar kekuatan jasmani manusia, berasal dari “turob' (QS. 22:5) atau “thin” (QS. 6:2), artinya makanan dan minuman yang berasal dari sari tanah.


"Turob” atau “thin” kemudian berubah menjadi “nutfah” (sperma) (QS. 16:4). Dengan panjangnya, “principal piece” - atau ekor 50 mikron, “mitochondria (middle piece)” atau badan 5 mikron, dan “acrosome (head)” atau kepada 5 mikron. Keseluruhan panjangnya 60 mikron. Berarti 60 per 1.000.000 kali satu mili.


Dari “ovum”, sperma setelah membuahi ovum (telur) selama 14 hari, bergerak pindah dalam rahim selama 266 hari. Di sini, berubah menjadi 'alaqoh (segumpal darah), berubah lagi menjadi “mudhghoh” (segumpal daging) (QS. 22:5). Dengan kata lain, terjadi perubahan fisik janin yang sangat dahsyat dan menakjubkan, dari satu sel menjadi bayi yang terdiri dari 8 trilyun sel.


Janin selama pra-milad (sebelum lahir), mengkonsumsi darah ibu yang berwarna merah selama 9 bulan 10 hari atau 280 hari. Sejak dalam ovum atau sel telur ibu, dalam waktu 14 hari. Ditambah dengan waktu setelah pindah dalam rahim 266 hari. Seluruh waktunya 14 + 266 hari adalah 280 hari. Menurut hadits dijelaskan setiap 40 hari, janin dalam rahim mengalami perubahan bentuk. Dengan demikian, selama dalam kehamilan, janin mengalami perubahan 7 kali.


Setelah lahir (pasca-milad), bayi masih mengkonsumsi darah ibu yang disebut Air Susu Ibu (ASI) yng berwarna putih selama 20 bulan 20 hari. Total waktu yang diperlukan bayi untuk memperoleh bantuan darah ibu, adalah 30 bulan atau “tsalatsuna syahro” (QS. 46:15). Pemberian ASI dapat digenapkan 24 bulan (QS. 2:233). Proses kehamilan dan kelahiran yang menuntut pengorbanan darah ibu yang demikian ini, al-Qur'an menilai sebagai perjuangan ibu yang sangat berat (QS. 31:14 dan 46:15).


Untuk dapat memahami kedua hakikat energi yang dimiliki manusia: pertama, adalah energi “nur” yang tiada terbaca secara inderawi. Kedua, energi darah secara fisik dapat terindera, tidak mungkin tertangkap makna hakikat kebenaran kedua-duanya, kecuali bertolak dari dasar ajaran wahyu ALLOH sebagai Maha Pencipta manusia dan alam raya. Dengan demikian, sumber sebab utama manusia mampu menulis dan berilmu, berasal dari ALLOH (QS. 95: 3-5).


Rosululloh saw menolak paham sesat dan diumbangkannya. Kemudian, ditegakkan ajaran yang benar berdasarkan wahyu ALLOH, tentang mansia dan kemanusiaannya. Diajarkan sistem membaca hidup dan kehidupan, bertolak dari dan dengan “Bismillahirobbi” - dengan asma ALLOH Maha Pencipta yang menciptakan jasmani manusia dari darah. ALLOH swt mengajari manusia membaca dan menulis ilmu (QS. 96:1-5).


Sistem pembacaan ini, menolak ajaran yng mendasarkan tinjauan sekulerisme dan materialisme. Kedua konsep ini bertentangan dengan al-Qur'an. Diingatkan agar dalam membaca hakikat hidup dan kehidupan, wajib bertolak dari petunjuk, wahyu dalam al-Qur'an. Namun, cara memahaminya dan menafsirkannya atau menginterpretasikannya justru harus mampu menangkap pesan tersirat. (QS. 2:2) karena di dalam al-Qur'an juga terdapat petunjuk yang merupakan analogi (QS. 18:54).


Wahyu ALLOH yang demikian ini, mengubah prbadi Muhammad dari manusia biasa menjadi Rosululloh saw dan nabi terakhir. Walaupun proses pengangkatannya hany di atas bukit gersang berbatu, bukan di istana mewah, dan hanya dalam ruang sempit, Gua Hiro.


Namun, Muhammad saw sebagai pemimpin, mendasarkan kepemimpinannya kepada wahyu ALLOH, menjadikan dirinya sebagai pemimpin dan Rosul yang tiada bandingnya. Namanya tetap abadi dan dihormati oleh umatnya dari masyarakat lapisan bawah hingga kalangan elit.


Tidak pernah terjadi dan tidak mungkin ada seorang pemimpin dunia dari negara mana pun yang telah berjuang sejak abad ke-7 M sampai kini, namanya tetap disebut oleh rakyat kecil, walaupun tidak pernah berjumpa sekejap pun. Namun, rakyat kecil dan para pemuka umat tetap mengimani Muhammad saw sebagai Rosululloh hingga akhir zaman.


Ternyata, perubahan sejara tetap terjadi, walaupun diawali dari tempat atau spatial yang sangat sederhana sekalipun, seperti di gunung batu Jabal Nur dan di Gua Hiro (610M). Dipelopori oleh seorang pelaku secara individual. Namun, tidak berarti gerak sejarah dapat diubah dan sukses menurut kemauan sendiri. Dengan kata lain, perubahan gerak sejarah tidaklah sukses, kecuali bersama ALLOH. Adapun maksud bersama dengan ALLOH, jika menggunakan dasar hukum ALLOH sebagai landasan gerak sejarah yang diinginkan para pelaku sejarah.


Turunnya wahyu pertama tersebut (QS. 96: 1-5) secara waktunya, terjadi pada bulan kesembilan, yakni Romadhon, 610 M. Wahyu yang terakhir (QS. 5:3) terjadi pada bulan Dzulhijjah, 632 M. Dalam proses waktu jika dibulatkan selama 23 tahn, seluruh wahyu yang diterimanya. Kemudian disampaikan secara lisan oleh Rosululloh saw kepada istrinya, Siti Khodija ra dan para sahabatnya.


Apa yang didengar oleh para sahabat, kemudian dituliskannya. Rosululloh saw seorang ummi (QS. 7:156-157), tidak mampu membaca dan menuliskannya. Adapun proses penulisannya harus dikelompokkan berdasarkan etunjuk Rosululloh saw.


Proses penulisan dilakukan oleh banyak penulis, di atas materi yang tidak sama. Selain itu, ada juga sahabat yang menghafalnya. Demi penyelamatan catatan yang tidak satu, wahyu tersebut dihimpun dalam satu mushaf. Apalagi setelah ada sahabat yang hafal, gugur dalam peperangan. Atas inisiatif Siti Hafshoh ra, seluruh catatan yang dituliskan atas bahan yang berbeda-beda itu dikumpulkan di rumahnya. Kemudian dilanjutkan oleh Kholifah Utsman bin Affan, 24 – 36 H / 644 – 656 M, yang menyusun dalam satu mushaf berisi 114 surat dan 30 juz. Lalu, digandakan penulisannya dalam empat mushaf dan diberi nama al-Qur'anul Karim. Mushaf aslinya disimpan di Museum Bukhoro. Demikian penjelasan Ismail R. Al-Faruqi dan Lois Lamnya Al-Faruqi dalam “The Cultural Atlas of Islam”.


Sumber: Buku “Api Sejarah” karya Ahmad Mansur Suryanegara terbitan Salamadani


Jumat, 28 Februari 2014

Muhammad bin Abdulloh sebagai Wirausahawan

Suatu perubahan sejarah terjadi di Arabia di abad ke-7, diawali dengan menjadikan Muhammad sebagai Nabi dan Rosul. Sebelumnya, Muhammad berprofesi sebagai wirausahawan atau pedagang. Dengan kata lain, suatu perubahan besar terjadi meliputi berbagai bidang: hukum, tata sosial, ekonomi, politik, budaya, dan agama, serta hankam, ternyata dipelopori proses perubahan awalnya oleh seorang yang pada awalnya berprofesi sebagai wirausahawan di pasar. Pada umumnya, hal ini oleh para sejarawan kurang memerhatikan pasar sebagai sentra awal perubahan besar dalam suatu masyarakat.
Adapun pasar-pasar yang pernah dikunjungi oleh Muhammad bin Abdulloh ketika masih sebagai wirausahawan di sekitar Jazirah Arabia, yaitu:
1. Dumatul Jandal.
Pasar dekat Hijaz Utara yang berbatasan dengan Syiria. Merupakan pasar tahunan yang diramaikan pada sepenuh bulan Robi'ul Awwal.
2. Mushoqor.
Sebuah kota yang terkenal di Hijar, Bahrain. Di sini diselenggarakan pasar tahunan sepenuh bulan Jumadil Awwal.
3. Suhar.
Pasar di Oman merupakan pasar tahunan yang berlangsung selama lima hari di bulan Rajab.
4. Dabba.
Salah satu di antara dua kota pantai yang dijadikan pusat kegiatan pemasaran komoditi produk Cina, India dan kota-kota dari timur lainnya. Di sini, timbul pasar tahunan setelah pindah dari pasar suhar. Oleh karena itu, aktivitas pemasarannya terjadi pada akhir bulan Rajab. Para wirausahawan dari pasar Suhar setelah lima hari pada bulan Rajab, pada akhir bulan Rajab, pindah ke Dabba.
5. Shihir atau Maharoh.
Pasar tahunan Shihir ini di pantai antara Aden dengan Oman. Di sini dikenal dengan parfum Amber. Pasar tahunan diadakan pada Nisfu Sya'ban.
6. Aden.
Pasar tahunan Aden diselenggarakan pada puluhan pertama Romadhon. Di sini merupakan tempat pemasaran komoditi dari wilayah timur dan selatan.
7. San'a.
San'a nama ibukota Yaman. Pasar tahunan di sini dibuka sebagai kelanjutan dari Aden. Dilaksanakan dari puluhan kedua hingga akhir Romadhon.
8. Robiyah.
Salah satu kota Hadramaut. Pasar tahunan yang diselenggarakan pada nisfu atau pertengahan hingga akhir Dzulqo'idah.
9. Ukaz.
Pasar Ukaz terletak di Nejaz Atas. Pasar tahunan ini diselenggarakan bersamaan waktunya dengan pasar Robiyah Hadramaut, artinya dilaksanakan pada pertengahan hingga akhir Dzulqo'idah.
10. Dzul Majaz.
Pasar Dzul Majaz yang berposisi dekat dengan Ukaz. Pasar tahunan ini diselenggarakan setiap 1 – 7 Dzulhijjah.
11. Mina.
Mina sebuah pasar sebagai kelanjutan dari Pasar Dzul Majaz. Waktu pasar tahunan Mina diselenggarakan bersamaan dengan waktu Haji.
12. Nazat.
Pasar tempatnya di Khaibar dan pasar tahunan ini diselenggarakan dari puluhan pertama hingga akhir bulan Muharam.
13. Hijr.
Sebuah kota dari Yamamah. Adapun pasar tahunan ini diselenggarakan waktunya bersamaan dengan pasar Nazat, artinya dirayakan pada waktu puluhan pertama hingga akhir Muharam.


Demikianlah aktivitas pasar-pasar yang berada di Jazirah Arabia menurut sumber sejarah Al-Muhabber dan Mu'ajam al-Buldan dalam “Encyclopedia of Serah”, jilid II, diterbitkan oleh “The Muslim School Trust”, London. Di pasar-pasar inilah, Muhammad bin Abdulloh sebagai wirausahawan sering melakukan transaksi dagang, dengan wirausahawan dari Cina dan India. Saat it, istilah Nusantara Indonesia belum ada, hanya dikenalnya sebagai kepulauan India.
Akibat telah terhubungkannya niaga antara Cina, India, dan Kepulauan India atau Indonesia dengan rempah-rempahnya, melalui pasar-pasar tersebut di atas, memungkinkan agama Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 M. Dan seperti penulis kemukakan di atas, menurut Prof. Dr. D.H. Burger dan Prof. Dr. Mr. Prajudi, serta Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje dalam Islam Di Hindia Belanda, menyatakan bahwa masuknya agama Islam di Indonesia melalui jalan niaga, dengan jalan damai, dan tanpa disertai invasi militer.
Dalam Encyclopedia di atas dijelaskan pula bahwa Muhammad bin Abdlloh ketika berusia 12 tahun untuk kali pertamanya melakukan perjalanan niaga ke Syiria bersama pamannya, Abu Tholib bin Abdul Mutholib. Seorang wirausahawan termuda di antara rombongan wirausahawan Makkah. Dengan ikut sertanya, Muhammad bin Abdulloh, dalam kafilah wirausahawan Makkah, Abu Tholib menyatakan, “Aku akan selalu bersama dengannya, dan kami berdua tidak akan salah seorang meninggalkannya.”
Ketika rombongan wirausahawan Abu Tholib sampai di Busra, Syiria, berjumpala dengan Pendeta Nasrani, Bahira. Sebagai pendeta yang mukasafah, tiba-tiba Pendeta Bahira mengundang untuk santap makan bersama. Hal ini tidak pernah dikerjakannya terhadap wirausahawan lainnya. Oleh karena itu, Abu Tholib menanyakan hal tersebut, “Apa yang sebenarnya terjadi pada hari ini, wahai pendeta Bahira? Anda tidak pernah menjamu kami sebelumnya seperti sekarang ini.”
Jawabnya, “Anda semuanya adalah tamuku dan aku harus menjamunya,” hal ini terjadi pada 582 M. Ternyata setelah selesai santap makan, pendeta Bahira menanyakan siapa anak muda tersebut. Abu Tholib menjawab keponakannya. Selanjutnya, Pendeta Bahira memerlihatkan tanda pada badan anak muda ini, Muhammad bin Abdulloh, di antara kedua pundaknya terdapat lambang kerosulan - “Seal of Prophethood”. Kemudian, ia menyuruh Abu Tholib bersama rombongannya segera kembali ke Makkah. Kemudian, ia menyuruh Abu Tholib bersama rombongan segera kembali ke Makka. Pendeta Bahira berpesan, “Demi ALLOH bila ahudi melihatnya akan sangat berbahaya.” Pesan ini sangat diperhatikannya, dan Ab Tholib berusaha mendampinginya hingga benar-benar keponakannya dewasa.
Setelah Muhammad bin Abdulloh semakin dewasa, beliau mencoba pula untuk berdagang sendiri tanpa disertai oleh pamannya lagi. Kemudian, membawa barang dagangan Siti Khodijah ra. Kadang mendapatkan upah, kadang pula memperoleh “profit sharing” (bagi hasil sebagai partner). Di kalangan para niagawan, dijuluki sebagai ash-Shidiq (jujur) dan al-amin (terpercaya) dan berkarakter terhormat. Pada usia 25 tahun, menikah dengan Siti Khodijah ra pada 595 M.
Masyarakat jahiliyah meresahkan Muahmmad bin Abdulloh. Setelah menikah, pada usia 30 tahun, beliau sering melakukan kholwat di Gua Hiro, Jabal Nur. Kegiatan spiritual ini dilakukan karena masyarakat jahiliyah benar-benar kehilangan kesadaran kemanusiaannya. Di bawah kondisi yang demikian ini, beliau ingin sekali memanusiakan kembali manusia-manusia jahiliyah.
Namun, tidaklah berarti karena kholwatnya di Gua Hiro, perniagaannya dihentikan. Beliau tetap meneruskannya, baik di pasar sekitar Makkah, maupun keluar Makkah. Beliau pernah pergi untuk keperluan niaga ke Yaman, Najd, dan Najran. Pada Dzulhijjah, Muhammad bin Abdulloh melakukan kontak niaga yang sangat sibuk di Pasar Ukaz dan Dzul Majaz.
Apakah hal ini sebagai ajaran dalam Islam bahwa untuk menjadi pemimpin Islam, sebelumnya harus membekali diri memahami permasalahan niaga dan penguasaan pasar atau kekuasaan ekonomi.
Apakah hal ini pula yang menjadikan dasar sebab masuknya Islam pada abad ke-7 M, melalui pasar dan dilakukan dakwahnya oleh para wirausahawan dari Timur Tengah. Pasar tidak hanya melahirkan wirausahawan. Namun, dalam sejarah, ternyata melahirkan ulama dan pemimpin bangsa.
Pada masa perkembangan Islam di Nusantara Indonesia, dari pasar dan pesantren melahirkan kekuasaan politik Islam atau kesultanan, pada abad 9 – 15 M. Apakah hal ini dapat dipastikan, siapa yang menguasai pasar dan pendidikan atau pesantren, berarti menguasai kekuasaan politik.
Apakah para Wali songo menempati pusat dakwahnya di pantai, berarti profesinya sebagai wirausahawan, sekaligus merangkap sebagai penguasa pasar atau sebagai eksportir dan importir. Apakah karena penguasaan pasar dapat menguasai kekuasaan politik dan mengatur pula pengembangan ajaran agama Islam.
Kedudukan ulama secara struktural spiritual dinilai sebagai akhli waris para nabi dan rosul. Sebelumnya, para nabi dan rosul disiapkan dengan kemampuannya sebagai wirausahawan, tidaklah mustahil dalam upaya kemandiriannya, para ulama atau wali songo, profesinya sebagai wirausahawan seperti yang diwariskan oleh Rosululloh saw.

Sumber: Buku "Api Sejarah" karya Ahmad Mansur Suryanegara yang diterbitkan oleh Salamadani.

Jumat, 14 Februari 2014

Nusantara dalam Pandangan Pakar Peta Bumi Muslim

Sulaiaman as-Sirafi, wirausahawan Muslim dari Persia yang pernah mengunjungi Timur Jauh mengatakan bahwa pada abad kedua Hijriyah, di Sula atau Sulawesi terdapat wirausahawan atau pedagang Muslim. Hal ini dapat dipastikan, sebelum mencapai Maluku, singgah terlebih dahulu di Sulawesi. Adapun perdagangan utama di Indonesia Timur saat itu adalah rempah-rempah dan wangi-wangian. Kedua komoditi tersebut terdapat di Maluku dan sekitarnya. Keduanya sangat menarik pedagang-pedagang Islam atau wirausahawan Muslim dari Timur Tengah. Keterangan atau sumber sejarah ini hampir langka digunakan oleh para sejarawan.

Timbullah pertanyaan, mengapa nama-nama pulau di Indonesia yang letaknya jauh dari Arab, menggunakan nama yang berasal dari bahasa Arab. Jawabannya hal ini memberikan gambaran betapa besarnya pengaruh Islam terhadap penamaan peta dunia dan Nusantara di dalamnya. Dengan kata lain, jauh sebelum Barat pada abad ke-16 mulai terampil sebagai imperialis, terlebih dahulu Islam melahirkan cendikiawan Muslim, termasuk pakar geografi dalam pembuatan peta bumi.

Nama-nama pulau, samudra, semenanjung, bukit, semula menggunakan istilah atau nama dengan bahasa Arab. Misalnya “Gibraltar” semula “Jabal Thoriq”. Hal ini terjadi karena peta bumi diciptakan oleh pakar geografi Muslim Arab. Dengan adanya nama-nama berbahasa Arab memberikan gambaran betapa luasnya daerah pengaruh Islam pada masa lalu hingga memasuki Eropa. Akibatnya, di Nusantara Indonesia pun, terdapat nama-nama wilayah darat dan laut atau danau yang berbahasa Arab.

Misalnya “Jazirah Maluku” disebut demikian karena berasal dari “Jazirah al-Muluk”. Di Jazirah atau wilayah yang dikelilingi laut tersebut, dikuasai oleh para raja atau “al-muluk”. Pulau Sumatra disebut pula dengan Andalusia, asrtinya memiliki keindahan dan kesuburan, sama dengan Spanyol karena itu disebut sebagai Andalusia oleh Mu'awiyyah. Danau Toba berasal dari “Thoyyiba” artinya indah dalam bahasa Arab.

Dengan banyaknya nama wilayah berbahasa Arab dan banyaknya daerah hunian wirausahawan Islam dari Banda Aceh hingga pulau Banda sebagai bukti Nusantara Indonesia sudah mengadakan hubungan niaga dengan Arabia. Namun, dalam penulisan Sejarah Indonesia pada masa pemerintahan kolonial Belanda sering disebut sebatas hubungan niaga Timur Tengah dengan India dan Cina, tanpa disebutkan Nusantara Indonesia. Hal ini sebagai dampak dari sistem penulisan sejarah yang berdasar “Neerlando Sentrisme” ditulis dari sudut pandang dan peran Belanda.

Sebenarnya, mungkinkah hubungan niaga yang demikian itu tanpa melalui Nusantara Indonesia. Jika komoditi yang diperdagangkan saat itu adalah rempah-rempah, dan Nusantara Indonesia sebagai wilayah pemasok dan penghasil rempah-rempah yang orisinal. Mungkinkah terjadi jaringan niaga rempah-rempah tanpa melalui Nusantara Indonesia.

Realitas fakta dari nama-nama tempat yang menggunakan bahasa Arab, memandu bagi yang mempertanyakan dari mana datangnya agama Islam yang masuk ke Nusantara. Jika benar agama Islam berasal dari Gujarat India seperti yang dituturkan oleh Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje, tentu banyak pulau atau wilayah lain yang penting ditemukan daerah hunian pedagang Gujarat.

Namun, dalam kenyataan catatan sejarah, di kota-kota besar di Jawa ataupun di luar pulau Jawa hingga pulau Banda terdapat banyak pedagang Arab. Sebaliknya, sangat langka adanya wilayah hunian pedagan Gujarat, tidak dapat diragukan lagi di Nusantara dan dunia pada umumnya ditemukan fakta dan data justru adanya banyak pedagang atau wirausahawan Cina.

Untuk dapat memahami masuknya agama Islam melalui jalan niaga yang berdampak terjadinya berbagai perubahan kemasyarakatan di Nusantara Indonesia, terlebih dahulu dibahas tentang terjadinya perubahan besar secara totalitas masyarakat Timur Tengah akibat adanya kebangkitan Islam. Suatu perubahan besar yang menjadikan Islam yang diajarkan oleh Rosululloh saw sebagai contoh terbaik - “uswatun hasanah” yang berhasil menciptakan dan mengaplikasikan perubahan hukum, sosial, ekonomi, politik, budaya, serta ketahanan dan pertahanan.

Sumber: Buku “Api Sejarah” karya Ahmad Mansur Suryanegara, terbitan Salamadani.

Jumat, 31 Januari 2014

Wasiat Politik Kelautan


Mengapa Islam dari Timur Tengah berpengaruh besar dalam menciptakan perubahan budaya dan peradaban dunia, selama 800 tahun dari abad ke-7 hingga abad ke-15? Bagaimana dan dengan jalan apa yang ditempuh oleh para pejuang Islam, mengenalkan ajaran Islam menjadi tersebar ke seluruh dunia saat itu? Mengapa agama Islam disambut oleh masyarakat yang didatanginya sebagai agama pembebas?

Mungkinkah ajaran Islam dapat menyebar ke seluruh dunia, jika umat Islamnya tidak memiliki kesadaran kemaritiman? Sangat kontraduktif jika bangsa Arab yang tinggal di Jazirah Arabia, tidak memiliki kesadaran kebaharian. Tidakkah arti jazirah sebagai suatu wilayah yang dikelilingi oleh laut atau selat.

* * *

Rosululloh saw memberikan jawaban yang tepat terhadap problema di atas. Ketandusan Jazirah Arabia dijawab oleh Rosululloh saw dengan 40 ayat tentang lautan atau maritim. Di dalamnya, bermuatan “wawasan politik kelautan” yang termaktub dalam al-Qur'an.

Mengajarkan bahwa ALLOH telah menyerahkan penguasaan lautan kepada umat Islam. Realitas duni 71% terdiri dari lautan dan samudra. Jalan apa yang harus dipilih oleh umat Islam dalam mendakwahkan ajaran Islam ke seluruh dunia. Nusantara Indonesia sebagai negara kepulauan dan produsen rempah-rempah, tersekat jauh antar-pulau dan dengan Timur Tengah, India, dan Cina oleh lautan dan samudra yang luas. Tidak ada pilihan lain kecuali melalui jalan laut niaga.

Nusantara Indonesia sebagai nusa kepulauan yang terbuka dan terletak di antara benua dan samudra. Segenap kemajuan agama yang terjadi di luar, akan masuk dan mengubah sistem kehidupan di Nusantara Indonesia. Agama Hindu dan Budha yang berasal dari India, masuk ke Nusantara melahirkan perubahan tatanan budaya dan menumbuhkan “political authority” - kekuasaan politik atau kerajaan Hindu dan Budha. Misalnya Keradjaan Hindoe Padjadjaran, Singosari, Kediri, Madjapahit, dan Keradjaan Boedha Sailendra dan Sriwidjaja.

Kembali ke masalah agama Islam yang merakyat ajarannya, tidak mengenal adanya stratifikasi sosial yang didasarkan kasta. Diterima oleh rakyat di Nusantara Indonesia sebagai “liberating forces” - kekuatan pembebas. Melepaskan manusia dari pengklasifikasian abadi berdasarkan kasta yang tidak dapat diubah karena dasar pembagian kasta berdasarkan “hereditas” – keturunan darah.

Islam memberikan semangat kehidupan dengan menciptakan ekonomi terbuka melalui pasar. Sistem ini melahirkan sistem sosial terbuka - “open society”. Artinya setiap individu terbuka untuk memperoleh kesempatan mengubah jenjang sosialnya, dengan “social climbing” - pendakian sosial. Melalui prestasi kerjanya - “achieved status”. Masyarakat Islam sebenarnya hampir tidak mendasarkan pada “ascribed status” - kedudukan sosial yang diperolehnya atas dasar keturunan - “hereditas” kecuali kedudukan Sultan atau Raja.

Islam masuk ke Nusantara Indonesia melalui gerbang pasar yang disebarkan para wirausahawan yang merangkap sebagai juru dakwah. Menurut Prof. Dr. D.H. Burger dan Prof. Dr. Mr. Prajudi, dalam Sedjarah Ekonomis Sosiologi Indonesia, Djilid Pertama, menyatakan Islam di Indonesia dikembangkan dengan jalan damai dan tidak disertai dengan invasi militer.

Dengan dana pribadi dan penguasaan transportasi kelautan serta penguasaan pasar, menjadikan Islam secara cepat tersebar ke seluruh kepulauan Nusantara Indonesia. Pengembangannya melibatkan setiap Muslim dengan keragaman profesinya, yang merasa terpanggil kesadaran agamanya, menjadi da'i dengan metode yang sejalan dengan profesinya.

Artinya pedagang dengan bahasa niaganya, nelayan dengan pendekatan nelayannya, bangsawan dengan bahasa struktural keningratannya, dan seterusnya. Rosululloh saw mengajarkan, “Sampaikanlah ajaran yang berasal dariku, walaupun baru satu ayat” - Blighu ani walau ayah. Artinya setiap Muslim berkewajiban untuk berperan aktif, ikut serta sebagai penyebar ajaran Islam yang bersumber dari wahyu. Dengan cara demikian, Islam cepat menyebar dan berdampak mayoritas bangsa Indonesia memeluk Islam sebagai agamanya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika kesaksian sejarah dari catatan wirausahawan dapat pula dijadikan sember penulisan sejarah.

Sumber: Buku “Api Sejarah” karya Ahmad Mansur Suryanegara terbitan Salamadani hal.28-30.

Jumat, 24 Januari 2014

Pasar Sebagai Gerbang Islamisasi Indonesia

Dunia dikejutkan dengan turunnya wahyu ALLOH yang disampaikan Malaikat Jibril as kepada seorang yang berprofesi wirausahawan, Muhammad. Beliau pun berbah statusnya menjadi Rosulolloh (utusan ALLOH). Sebuah wahyu yang memberikan ajaran bagaimana caranya untuk mencapai islam yang berarti selamat dan menjadikan diri sebagai Muslim yang berarti menyerahkan kehendak diri kepada kehendak ALLOH.

Ajaran yang diawali hanya lima ayat (QS. 96: 1-5), berisikan tentang peringatan bahwa ALLOH yang menciptakan manusia dari darah dan ALLOH pula yang menjadikan manusia berilmu. ALLOH juga yang menciptakan manusia dapat membaca dan menulis. Ajaran wahyu ini oleh Malaikat Jibril as disampaikan kepada seorang wirausahawan yang “ummi”. Orang yang tidak dapat membaca dan menulis. Diturunkan bukan di istana yang mewah, melainkan di sebuah bukit batu gersang. Jabat Nur dengan guanya, Gua Hiro.

Mengapa sejarah dapat diubah hanya dengan realitas sarana yang sangat sederhana. Namun, berdampak abadi dan menembus daratan, lautan serta udara yang tiada batas. Dalam durasi waktu yang berbataskan akhir zaman. Padahal, hanya digerakkan oleh personal yang merupakan “a tiny creative minority” - kelompok kecil minoritas yang pernuh kreatifitas.

Al-Qur'an mencontohkan pada umumnya nabi dan rosul dalam upaya memelopori gerakan pembaharuan tampil dari dirinya sendiri, seperti nabi Daud as dalam usia muda dan dari golongan minoritas dengan izin ALLOH berhasil membangkitkan kekuasaan yang sudah mapan dan absolut (QS. 2:249).

Awalnya, Rosululloh saw hanya didukung oleh istri terhormat, Siti Khodijah ra. Diikuti oleh keponakannya, Ali bin Abi Thalib. Mantan hamba sahaya, Zaid. Kelompok kecil ini menjadi magnet yang mampu menarik tokoh-tokoh masyarakat yang terhormat, Abu Bakar, Umar bin Khotthob, dan Utsman bin Affan.

Betapa dahsyatnya pengaruh wahyu ajaran Islam ini. Dalam waktu relatif singkat dalam ukuran jarak waktu sejarah, menjadikan bangsa Arab yang tadinya jahiliyah berubah menjadi jenius. Ajaran wahyu Islam yang tidak diturunkan di istana. Tetapi, mengapa mampu menumbangkan singgasana penguasa-penguasa yang beristana megah. Kekaisaran Persia dengan ajaran majusinya dan Keradjaan Romawi Bizantium dengan Nasraninya, keduanya tidak mampu menghentikan gerak sejarah yang dibangkitkan kaum yang kaya akan Rahmat ALLOH.

Bangsa Arab yang tinggal di Jazirah Arabia, artinya daratan yang dikelilingi oleh lautan. Namun terhimpit oleh Samodra Sahara Pasir Kuning yang tandus, mencoba bangkit dengan wahyu Ilahi menjadi bangsa yang mampu menguasai bahari kelautan. Dengan mengarungi samudra dan melintasi benua, bangsa Arab membangun jalan laut niaga, guna meretas jalan ajaran Islam untuk didakwahkan.

Gerak sejarah Islam berputar sangat menakjubkan. Meluas hingga ke batas cakrawala dunia. Bukan gerakan dari istana ke istana. Melainkan dari pasar ke pasar. Para wirausahawan tidak hanya memasarkan komoditi barang dagangan, tetapi juga menjadikan pasar sebagai arena amal ajaran niaga islami. Menumbangkan ajaran politeisme dan digantikan dengan ajaran tauhid. Dampaknya., aturan jahiliyah pun roboh, tidak mampu bertahan. Ditegakkanlah syariah Islam dengan metode budaya bangsa-bangsa yang dijumpainya. Kehadiran Islam disambut sebagai “liberating forces” - kekuatan pembebasan dari belenggu ajaran yang menyesatkan.

Pasar diperkirakan oleh sementara pihak hanya sebagai tempat memenuhi kebutuhan materi. Pernyataan seperti itu ternyata tidak benar. Pasar tidak hanya sebagai tempat jual beli barang, tetapi, terjadi pula pertukaran bahasa, ekonomi, politik, ideologi, sosial, budaya, ketahanan dan pertahanan. Bahkan konversi agama pun berlangsung karena pengaruh pasar. Mengapa demikian?

Rosululloh saw sebelum memperoleh wahyu ALLOH, semula sebagai wirausahawan. Disiapkan sebelumnya dengan kehidupan yang bergumul dengan hiruk pikuk pasar, sejak usia dini, yaitu usia 8 tahun hingga dewasa 40 tahun. Selama 32 tahun, Muhammad berprofesi sebagai wirausahawan. Namun, dikarenakan wahyu ALLOH, pada usia 40 tahun, berubahlah menjadi Rosululloh saw. Berjuang mendakwahkan ajaran Islam selama 23 tahn.

Pengaruh berikutnya terhadap pengikutnya, menjadikan pasar sebagai medan niaga dan dakwah. Dari pasar, dibangun masjid. Dari masjid dibina generasi muda melalui lembag pendidikan, di Indonesia disebut pesantren. Kelanjutannya dari tuntutan komunitas Islam, melahirkan kekuasaan politik Islam atau kesultanan.

Istilah pasar berasal dari Timur Tengah dari kata bazaar. Sebelumnya, di Nusantara Indonesia tidak dikenal istilah tersebut. Karena pengaruh Islam dan kontak niaga dengan Timur Tengah, mulailah masuk istilah tersebut. Akibatnya, dikenal pula nama-nama pasar denga hari-hari Islam: Pasae Senin, Pasar Rabu, Pasar Kamis, Pasar Jum'at, Pasar Ahad.

Melalui pasar berkembanglah pula Bahasa Melayu Pasar sebagai bahasa komunikasi niaga dalam pasar. Demikian pula Huruf Arab Melayu menjadi dikenal di Nusantara Indonesia. Dampaknya dapat dipastikan, penguasa pasar dunia, pengendali pengaruh kekuasaan politik, dan penguasa media transportasi, serta pendidikan, membentuk budaya dan peradaban bangsa di dunia.

Dalam hal ini, mengapa Islam dari Timur Tengah berpengaruh besar dalam menciptakan perubahan budaya dan peradaban dunia, selama 800 tahun dari abad ke-7 hingga abad ke-15? Bagaimana dan dengan jalan apa yang ditempuh oleh para pejuang Islam, mengenalkan ajaran Islam menjadi tersebar ke seluruh dunia saat itu? Mengapa agama Islam disambut oleh masyarakat yang didatanginya sebagai agama pembebas?

Mungkinkah ajaran Islam dapat menyebar ke seluruh dunia, jika umat Islamnya tidak memiliki kesadaran kemaritiman. Sangat kontraduktif jika bangsa Arab yang tinggal di Jazirah Arabia, tidak memiliki kesadaran kebaharian. Tidakkah arti jazirah sebagai suatu wilayah yang dikelilingi oleh laut atau selat.

Sumber: Buku “Api Sejarah” karya Ahmad Mansur Suryanegara hal. 26-28

Jumat, 17 Januari 2014

Penguasaan Maritim, Pasar, Pesantren, dan Masjid

Kekuatan penyebaran Islam terletak pada (1) penguasaan pasar; (2) kemasjidan dan pendidikan; (3) kekuasaan politik atau kesultanan; (4) penguasaan maritim dengan niaga lautnya; (5) kesadaran Hukum Islam. Dari kelima masalah ini, masalah maritim atau kebaharian, jarang dituliskan sejarahnya, oleh para sejarawan Muslim sendiri.

Baik dalam pembahasan Sejarah Rosululloh saw, 611 – 632 M di Makkah dan Madinah. Menyusul Sejarah Khulafaur Rosyidin, 11 – 41 H/632 – 661 M, di Madinah, 11 – 36 H/632 – 656 M, dan Kufah, 36 – 41 H/656 – 661 M. Kemudian, sejarah Umaya I, 41 – 133 H/661 – 750 M, di Damaskus dan Umayah II, 139 – 423 H/756 – 1031 M, di Kordoba Syanyol. Abbasiyah, 133 – 656 H/750 – 1258 M, di Baghdad. Fathimiyah, 358 – 567 H/969 – 1171, di Kairo. Kesultanan Turki, 547 – 1343 H/1055 – 1924 M, di Angkara, dan Kesultanan Moghul di Delhi India, 1516 – 1854 M.

Ada pula sejarawan yang menuliskan Sejarah Islam Indonesia sebagai Sejarah Lokal. Tidak dinilai sebagai Sejarah Internasional. Walaupun perdagangan pada masa Islam telah mengadakan kontak dagang dengan pasar dunia. Atau dengan mengadakan kontak niaga dengan Cina, India, dan Timur Tengah serta Barat.

Dalam hal lawan politik Islam pun, musuh Islam adalah penjajah Barat. Dalam menghadapi perlawanan bersenjata terhadap penjajah Barat, Islam Indonesia berhadapan dengan kerajaan-kerajaan imperialis Barat, seperti Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, dan Inggris. Dengan adanya perlawanan bersenjata terhadap penjajah Barat tersebut, menjadikan perkembangan Sejarh Islam Indonesia, tidak dapat dinilai sebagai Sejarah Lokal, melainkan Sejarah Internasional.

Dampak lanjut pengaruh perjuangan umat Islam Indonesia, membangkitkan kesadaran kesamaan sejarah dan sekaligus membangkitkan kesadaran nasional. Para Ulama dan Santri berperan serta memimpin perlawanan bersenjata terhadap penjajah Barat. Dengan adanya kontak dengan Barat ini, periode Sejarah Islam Indonesia disebut sebagai Sejarah Modern Indonesia dan Sejara Modern ini terjadi pada masa Wali Songo.

Sumber: Buku "Api Sejarah" karya Ahmad Mansur Suryanegara

Jumat, 10 Januari 2014

Mata Uang Islam dan Rempah-rempah


sumber: Buku "Api Sejarah" karya Ahmad Mansur Suryanegara

Demikian pula dalam perkembangan niaga Islam ke Eropa, Inggris, dan Rusia sangat langka untuk memperoleh informasi sejarahnya secara benar. Padahal d wilayah ini ditemukan mata uang Islam tersebar di Rusia, Finlandia, Swedia, dan Norwegia. Terdapat juga peninggalan mata uang Islam di Inggris, Irlandia, dan Baltik, Skandinavia. Fakta ditemukanya mata uang Islam tersebut bukti bahwa betapa luasnya pengaruh ekonomi perdagangan dan budaya Islam yang terjadi pada abad ke-7 hingga abad ke-11 M di dunia Barat. Tidak berbeda tentang sejarah mata uang yang pernah dikeluarkan oleh Kesoeltanan Mataram Yogyakarta, Kesoeltanan Banten, dan lainnya, tidak pernah ditulis dalam buku sejarah.

Peran aktif wirausahawan Nusantara tidak tertuturkan sama sekali dalam dunia perniagaan internasional. Padahal, rempah-rempah yang diperdagangkan di pasar Eropa dihasilkan dari Nusantara Indonesia. Rempah-rempah itu juga merupakan komoditi perniagaan yang sangat penting dalam dunia niaga saat itu. Dampaknya, tempat dan jalan menuju ke pusat rempah-rempah dirahasiakan. Pengaruhnya, nama-nama kepulauan di Nusantara menjadi tidak disebutkan dalam penulisan sejarahnya.

Barangkali, hal ini pula yang mengakibatkan Barat belum memahami betapa luasnya Nusantara Indonesia. Mereka hanya memahami nama wilayah India dan Cina. Apa yang sebenarnya yang disebut dengan India, Barat, tidak juga mengetahuinya. Dampaknya, dalam perniagaan Barat terdapat banyak wilayah yang disebut dengan nama, India.

Barat baru memahami India dan Nusantara atau saat itu disebut sebagai kepulauan India, setelah memasuki abad ke-16. Artinya, setelah benar-benar Barat atau Keradjaan Katolik Portugis masuk ke anak benua India. Ternyata, setelah sampai ke India, baru disadari India bukan pusat rempah-rempah sebenarnya.

Barat masih merasa perlu melanjutkan penguasaan wilayah, menuju ke Nusantara Indonesia sebagai wilayah penghasil rempah-rempah sebenarnya. Dikuasainya Malaka, 1511, sebagai pusat pasar Islam di Asia Tenggara yang menyuplai kebutuhan rempah-rempah dan berbagai komoditi produk Asia, India, dan Cina untuk dipasarkan ke pasar-pasar Timur Tengah Eropa.

Setelah itu, Keradjaan Katolik Pootugis masih juga mencoba meluaskan wilayah penjajahannya dengan mendekati Kesoeltanan Tidore, Kesoeltanan Ternate, dan Kesoeltanan Ambon. Hal ini terjadi sebagai dampak dari realitas India bukan negara penghasil rempah-rempah yang dicarinya. Hanya Nusantara Indonesialah yang benar-benar negara asal penghasil rempah-rempah sebagai komoditi yang mengisi kebutuhan pasaran dunia. Di wilayah ini pula, ditemukan banyak wirausahawan Arab Muslim yang menguasai pemasaran rempah-rempah tersebut.

Sebagai catatan, J.C. van Leur dalam “Indonesian Trade and Society” - “Perniagaan Indonesia dan Masyarakatnya” menyatakan, Islam semula tidak memiliki lembaga dakwah khusus. Tetapi Islam mengajarkan setiap Muslim untuk dapat bertindak sebagai propagandis atau da'i yang menda'wahkan ajaran Islam, walaupun baru mengenal satu ayat. Oleh karena itu, wirausahawan Arab Muslim dan wirausahawan pribumi Muslim, menjadikan pasar-pasar di Nusantara Indonesia sebagai medan penyampaian ajaran Islam.

Pada umumnya sejarawan Barat sangat tahu tentang Yunani dan Romawi. Seolah-olah mereka tidak ma tau dari mana pasar Yunani dan Romawi memperoleh komoditi produk negara-negara Asia dan Timur Tengah. Sepertinya dengan sengaja mereka tidak mau menyebutkan penaran niaga Arabia. Mereka hanya memfokuskan perhatiannya ke India dan Cina.

Mungkinkah pasar Yunani dan Romawi yang berposisi di sebelah barat daya Mesir dan Arabia, dapat memiliki produk niaga dari Cina dan India, serta Nusantara Indonesia jika tanpa melalui pasar niaga di Arabia. Perlu dipahami, sebenarnya seluruh aktivitas perniagaan di Timur Tengah tidak dapat dilepaskan hubungan dengan aktivitas niaga di Arabia. Dengan kata lain, pasar Arabia merupakan media pasar-pasar antara Cina, India, Nusantara Indonesia dengan Timur Tengah lainnya serta dengan pasar di Eropa.

Jika saat itu barang dagangan yang sangat dibutuhkan oleh pasar dunia adalah rempah-rempah, dapat dipastikan pasar-pasar Nusantara Indonesia sangat besar peranannya dalam memenuhi tuntutan pasar dunia niaga tersebut. Oleh karena itu, melalui peran pasar-pasar ini pula, agama Islam masuk dan berkembang ke Nusantara.

Dari gambaran tersebut, ada problema penulisan sejarah Islam Indonesia. Dari segi waktu, dimundurkannya waktu masuk agama Islam, yaitu ketika Islam masih di pantai-pantai, pada abad ke-7 menjadi abad ke-13 M. Dikacaukan pengertiannya dengan perkembangan Islam setelah meluas ke pedalaman, dan telah berdiriny kekuasaan politik atau kesultanan abad ke-13 M dituliskan sebagai waktu awal masuknya agama Islam ke Nusantara.