Senin, 23 Desember 2013

Pengembaraan Wirausahawan Arab


Hal ini terjadi karena bangsa Arab dahulunya adalah pengembara, benar-benar seperti keadaan mereka pada masa kini. Pengembara-pengembara Arab itu terdiri dari pedagang-pedagang. S. Alwi bin Tahir Al-Hadad menyatakan, jumlah mereka yang ada di Koromandel (dalam sejarah kita kenal dengan nama Keling) sebanyak 850.000 orang. Bahkan di sepanjang pantai Malabar, jumlah mereka lebih banyak lagi. Sedangkan mereka yang telah sampai di Cina berjumlah puluhan ribu sehingga pemerintah Cina menyediakan tempat-tempat tertentu untuk kediaman mereka di beberapa kota Cina.

Keterangan S. Alwi bin Tahir Al-Hadad tersebut memberikan gambaran terjadinya jalinan keakraban antara wirausahawan Arab dengan raja dan masyarakat Cina. Thomas W. Arnold menambahkan hubungan niaga antara Arab dan Cina telah terjalin sebelum Rosululloh saw lahir. Thomas W. Arnold memberikan gambaran betapa eratna jalinan niaga Arab – Cina, setelah masa Rosululloh saw dengan mengutip hadits Rosululloh saw dari Kanzu Ummal, Jilid V, hlm. 202, “Carilah Ilmu walaupun di negeri Cina”.

Adapun kehadiran wirausahawan Arab di dataran Cina karena bangsa Arab memiliki bahtera niaga yang mampu mengarungi Samudra Arabia dan Perisa. Dalam penulisan sejarah, dinyatakan kapal-kapal dagang pada masa kejayaan Islam berlayar sampai Samudra Persia.

Pada Peta Bumi karya Al-Biruni, 973 – 1048 M, pakar geografi Muslim menuliskan nama Samodra India sebenarnya adalah Samodra Persia nama sebelumnya. Hanya setelah negara imperialis Barat berkuasa, digantikanlah namanya menjadi Samodra India.

Demikian pula nol meridian semula melintas Mekah, sebagai petunjuk arah kiblat. Kemudian oleh Keradjaan Protestan Anglikan Inggris dialihkan lewat Greenwich London.

Dari sinilah ditentukan mata angin posisi wilayah atau suatu negara dalam membaca peta bumi. Misalnya, Jepang, Cina, Korea letak geografisnya di sebelah Timur dari Greenwich London, dan sangat jauh, disebutnya “The Far East”. Demikian pula posisi geografi Mekah dan Madinah sebenarnya terletak di sebelah Barat dari Indonesia. Oleh karena itu, kiblat sholat menghadap ke arah Barat. Namun bangsa Indonesia sekarang ikut menyebut Arabia, atau Mekah dan Madinah serta Mesir sebagai wilayah Timur Tengah. Artinya, berposisi dari Greenwich sebelah Timur dan di tengah. Demikian pula bangsa Indonesia, Malaysia, Singapura, hailand, Vietnam, Myanmar (Burma), menyebutkan sebagai kelompok negara-negara Asia Tenggara. Tentu, penyebutan mata angin Tenggara ini dilihat dari Greenwich London.

Pelayaran wirausahawan Arab Muslim menempuh jalan laut niaga. Dari pulau Nikobar, Andaman, Maladiv (Maladewa), berlayar ke Malaka sebagai pusat niaga Muslim di Asia Tenggara. Di antara kapal-kapal wirasahawan Arab Muslim itu ada juga yang mengubah perjalanannya sampai ke Madagaskar. Ada pula yang membawa barang dagangan atau komoditi dari Afrika Selatan ke Guinea dan sekitarnya. Kemudian kapal-kapal niaga Muslim tersebut kembali ke Madagaskar.

Seluruh pantai lautan tersebut di atas, dahulu dibawah pengaruh wiraniagawan Muslim yang datang dari Kholifah Mu'awiyah, 661-750, ketika pusat pemerintahannya di Damaskus. Kemudian pesisir Sindu India, sudah tersebar pula agama Islam.

Kambai dan Gujarat di India merupakan pusat pedagang-pedagang atau wirausahawan dari Oman, Hadramaut dan Teluk Persia sejak masa sebelum lahirnya agama Islam yang diajarkan oleh Rosululloh saw. Hal ini menjadi lebih kuat jika diingatkan bahwa pada abad ke-2 SM perdagangan dengan Sailan atau Sri Langka sudah seluruhnya di tangan bangsa Arab.

Dalam masalah sejarah masuknya agama Islam ke India, Thomas W. Arnold mengoreksi ketidakbenaran pernulisan sejarah yang memberikan gambaran Islam di India dikembangkan oleh Mahmud Ghanza, Aurangzeb, dengan kekerasan dan kekejaman. Pemaksaan khitan oleh Haydar Ali dan Tipu Sultan. Dijelaskan hal tersebut tidah benar, sejarah terjadinya 66 juta Muslim di India, dampak dari da'wah persuasif, dan damai. Mulai diajarkan oleh wirausahawan atau wiraniagawan Arab melalui jalan laut niaga.

Informasi sejarah tentang aktivitas pasar di Arabia kurang banyak dipahami oleh sementara sejarawan di Asia. Hal ini akibat sistem penulisan sejarah masih meniru Barat. Umumnya, sejarawan Barat selalu mengecilkan peranan pasar di Arabia. Kemudian lebih mengangkat dalam penulisan sejarah, peranan pasar di India atau Cina.

Dengan kata lain, penjajah Barat dalam upaya penaklukan kembali – reconquista terhadap Islam, tidak hanya menjajah wilayah jajahan. Melainkan juga mencoba menjajah pola pikir rakyat jajahan dengan cara mendistorsikan penulisan sejarah. Menurut Anthony Smith dalam “Geopolitics of Information”, selain melakukan distorsi penulisan sejarah juga dalam masalah berita pun, Barat melancarkan “news imperialism” - penjajahan berita.

Sumber: Buku "Api Sejarah" karya Ahmad Mansur Suryanegara.

Minggu, 15 Desember 2013

Pembukaan Buku Api Sejarah


Beberapa penulis sejarah mengira masuknya Islam ke Indonesia itu pada abad ke-13 Masehi. Akan tetapi, R.K.H. Abdullah bin Nuh meyakini bahwa datangnya agama Islam ke Asia Tenggara jauh lebih lama dari perkiraan tersebut. Menurutnya, hubungan perdagangan atau perniagaan antara Indonesia dan sekitarnya dengan negeri Arab atau bangsa Arab, merupakan suatu jalinan hubungan sejarah yang telah terbentuk berabad-abad, jauh sebelum lahirnya Nabi Muhammad saw.
Dijelaskan lebih lanjut, berabad-abad sebelum itu, kota-kota di Yaman telah mempunyai hubungan perdagangan luas dengan negeri-negeri lain. Sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu, bangsa Arab terus-menerus mengadakan hubungan perdagangan yang luas di luar negeri. Bangsa Arab merupakan wirausahawan perantara antara Eropa dengan negara-negara Afrika, India, Asia Tenggara, dan Timur Jauh, yaitu Cina dan Jepang.
Mereka tidak hanya memperdagangkan hasi tanah Arab saja. Akan tetapi perdagangan mereka meliputi pula barang-barang yang mereka datangkan dari Afrika, India, dan sebagainya. Berupa gading gajah, wangi-wangian, rempah-rempah, emas dan sebagainya.
Besar kemungkinan bahwa Islam dibawa para wirausahawan Arab ke Asia Tenggara pada abad pertama dari tarikh Hijriah atau abad ke-7 Masehi. Hal ini menjadi lebih kuat, menurut T.W. Arnold dalam “The Preaching of Islam” - Sejarah Da'wah Islam pada abad ke-2 Hijriah perdagangan dengan Sailan atau Srilanka sudah seluruhnya di tangan bangsa Arab. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Prof. Dr. B.H. Burger dan Prof. Dr. Mr. Prajudi dalam “Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia”.

Sumber: Buku "Api Sejarah" karya Ahmad Mansur Suryanegara.