Jumat, 31 Januari 2014

Wasiat Politik Kelautan


Mengapa Islam dari Timur Tengah berpengaruh besar dalam menciptakan perubahan budaya dan peradaban dunia, selama 800 tahun dari abad ke-7 hingga abad ke-15? Bagaimana dan dengan jalan apa yang ditempuh oleh para pejuang Islam, mengenalkan ajaran Islam menjadi tersebar ke seluruh dunia saat itu? Mengapa agama Islam disambut oleh masyarakat yang didatanginya sebagai agama pembebas?

Mungkinkah ajaran Islam dapat menyebar ke seluruh dunia, jika umat Islamnya tidak memiliki kesadaran kemaritiman? Sangat kontraduktif jika bangsa Arab yang tinggal di Jazirah Arabia, tidak memiliki kesadaran kebaharian. Tidakkah arti jazirah sebagai suatu wilayah yang dikelilingi oleh laut atau selat.

* * *

Rosululloh saw memberikan jawaban yang tepat terhadap problema di atas. Ketandusan Jazirah Arabia dijawab oleh Rosululloh saw dengan 40 ayat tentang lautan atau maritim. Di dalamnya, bermuatan “wawasan politik kelautan” yang termaktub dalam al-Qur'an.

Mengajarkan bahwa ALLOH telah menyerahkan penguasaan lautan kepada umat Islam. Realitas duni 71% terdiri dari lautan dan samudra. Jalan apa yang harus dipilih oleh umat Islam dalam mendakwahkan ajaran Islam ke seluruh dunia. Nusantara Indonesia sebagai negara kepulauan dan produsen rempah-rempah, tersekat jauh antar-pulau dan dengan Timur Tengah, India, dan Cina oleh lautan dan samudra yang luas. Tidak ada pilihan lain kecuali melalui jalan laut niaga.

Nusantara Indonesia sebagai nusa kepulauan yang terbuka dan terletak di antara benua dan samudra. Segenap kemajuan agama yang terjadi di luar, akan masuk dan mengubah sistem kehidupan di Nusantara Indonesia. Agama Hindu dan Budha yang berasal dari India, masuk ke Nusantara melahirkan perubahan tatanan budaya dan menumbuhkan “political authority” - kekuasaan politik atau kerajaan Hindu dan Budha. Misalnya Keradjaan Hindoe Padjadjaran, Singosari, Kediri, Madjapahit, dan Keradjaan Boedha Sailendra dan Sriwidjaja.

Kembali ke masalah agama Islam yang merakyat ajarannya, tidak mengenal adanya stratifikasi sosial yang didasarkan kasta. Diterima oleh rakyat di Nusantara Indonesia sebagai “liberating forces” - kekuatan pembebas. Melepaskan manusia dari pengklasifikasian abadi berdasarkan kasta yang tidak dapat diubah karena dasar pembagian kasta berdasarkan “hereditas” – keturunan darah.

Islam memberikan semangat kehidupan dengan menciptakan ekonomi terbuka melalui pasar. Sistem ini melahirkan sistem sosial terbuka - “open society”. Artinya setiap individu terbuka untuk memperoleh kesempatan mengubah jenjang sosialnya, dengan “social climbing” - pendakian sosial. Melalui prestasi kerjanya - “achieved status”. Masyarakat Islam sebenarnya hampir tidak mendasarkan pada “ascribed status” - kedudukan sosial yang diperolehnya atas dasar keturunan - “hereditas” kecuali kedudukan Sultan atau Raja.

Islam masuk ke Nusantara Indonesia melalui gerbang pasar yang disebarkan para wirausahawan yang merangkap sebagai juru dakwah. Menurut Prof. Dr. D.H. Burger dan Prof. Dr. Mr. Prajudi, dalam Sedjarah Ekonomis Sosiologi Indonesia, Djilid Pertama, menyatakan Islam di Indonesia dikembangkan dengan jalan damai dan tidak disertai dengan invasi militer.

Dengan dana pribadi dan penguasaan transportasi kelautan serta penguasaan pasar, menjadikan Islam secara cepat tersebar ke seluruh kepulauan Nusantara Indonesia. Pengembangannya melibatkan setiap Muslim dengan keragaman profesinya, yang merasa terpanggil kesadaran agamanya, menjadi da'i dengan metode yang sejalan dengan profesinya.

Artinya pedagang dengan bahasa niaganya, nelayan dengan pendekatan nelayannya, bangsawan dengan bahasa struktural keningratannya, dan seterusnya. Rosululloh saw mengajarkan, “Sampaikanlah ajaran yang berasal dariku, walaupun baru satu ayat” - Blighu ani walau ayah. Artinya setiap Muslim berkewajiban untuk berperan aktif, ikut serta sebagai penyebar ajaran Islam yang bersumber dari wahyu. Dengan cara demikian, Islam cepat menyebar dan berdampak mayoritas bangsa Indonesia memeluk Islam sebagai agamanya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika kesaksian sejarah dari catatan wirausahawan dapat pula dijadikan sember penulisan sejarah.

Sumber: Buku “Api Sejarah” karya Ahmad Mansur Suryanegara terbitan Salamadani hal.28-30.

Jumat, 24 Januari 2014

Pasar Sebagai Gerbang Islamisasi Indonesia

Dunia dikejutkan dengan turunnya wahyu ALLOH yang disampaikan Malaikat Jibril as kepada seorang yang berprofesi wirausahawan, Muhammad. Beliau pun berbah statusnya menjadi Rosulolloh (utusan ALLOH). Sebuah wahyu yang memberikan ajaran bagaimana caranya untuk mencapai islam yang berarti selamat dan menjadikan diri sebagai Muslim yang berarti menyerahkan kehendak diri kepada kehendak ALLOH.

Ajaran yang diawali hanya lima ayat (QS. 96: 1-5), berisikan tentang peringatan bahwa ALLOH yang menciptakan manusia dari darah dan ALLOH pula yang menjadikan manusia berilmu. ALLOH juga yang menciptakan manusia dapat membaca dan menulis. Ajaran wahyu ini oleh Malaikat Jibril as disampaikan kepada seorang wirausahawan yang “ummi”. Orang yang tidak dapat membaca dan menulis. Diturunkan bukan di istana yang mewah, melainkan di sebuah bukit batu gersang. Jabat Nur dengan guanya, Gua Hiro.

Mengapa sejarah dapat diubah hanya dengan realitas sarana yang sangat sederhana. Namun, berdampak abadi dan menembus daratan, lautan serta udara yang tiada batas. Dalam durasi waktu yang berbataskan akhir zaman. Padahal, hanya digerakkan oleh personal yang merupakan “a tiny creative minority” - kelompok kecil minoritas yang pernuh kreatifitas.

Al-Qur'an mencontohkan pada umumnya nabi dan rosul dalam upaya memelopori gerakan pembaharuan tampil dari dirinya sendiri, seperti nabi Daud as dalam usia muda dan dari golongan minoritas dengan izin ALLOH berhasil membangkitkan kekuasaan yang sudah mapan dan absolut (QS. 2:249).

Awalnya, Rosululloh saw hanya didukung oleh istri terhormat, Siti Khodijah ra. Diikuti oleh keponakannya, Ali bin Abi Thalib. Mantan hamba sahaya, Zaid. Kelompok kecil ini menjadi magnet yang mampu menarik tokoh-tokoh masyarakat yang terhormat, Abu Bakar, Umar bin Khotthob, dan Utsman bin Affan.

Betapa dahsyatnya pengaruh wahyu ajaran Islam ini. Dalam waktu relatif singkat dalam ukuran jarak waktu sejarah, menjadikan bangsa Arab yang tadinya jahiliyah berubah menjadi jenius. Ajaran wahyu Islam yang tidak diturunkan di istana. Tetapi, mengapa mampu menumbangkan singgasana penguasa-penguasa yang beristana megah. Kekaisaran Persia dengan ajaran majusinya dan Keradjaan Romawi Bizantium dengan Nasraninya, keduanya tidak mampu menghentikan gerak sejarah yang dibangkitkan kaum yang kaya akan Rahmat ALLOH.

Bangsa Arab yang tinggal di Jazirah Arabia, artinya daratan yang dikelilingi oleh lautan. Namun terhimpit oleh Samodra Sahara Pasir Kuning yang tandus, mencoba bangkit dengan wahyu Ilahi menjadi bangsa yang mampu menguasai bahari kelautan. Dengan mengarungi samudra dan melintasi benua, bangsa Arab membangun jalan laut niaga, guna meretas jalan ajaran Islam untuk didakwahkan.

Gerak sejarah Islam berputar sangat menakjubkan. Meluas hingga ke batas cakrawala dunia. Bukan gerakan dari istana ke istana. Melainkan dari pasar ke pasar. Para wirausahawan tidak hanya memasarkan komoditi barang dagangan, tetapi juga menjadikan pasar sebagai arena amal ajaran niaga islami. Menumbangkan ajaran politeisme dan digantikan dengan ajaran tauhid. Dampaknya., aturan jahiliyah pun roboh, tidak mampu bertahan. Ditegakkanlah syariah Islam dengan metode budaya bangsa-bangsa yang dijumpainya. Kehadiran Islam disambut sebagai “liberating forces” - kekuatan pembebasan dari belenggu ajaran yang menyesatkan.

Pasar diperkirakan oleh sementara pihak hanya sebagai tempat memenuhi kebutuhan materi. Pernyataan seperti itu ternyata tidak benar. Pasar tidak hanya sebagai tempat jual beli barang, tetapi, terjadi pula pertukaran bahasa, ekonomi, politik, ideologi, sosial, budaya, ketahanan dan pertahanan. Bahkan konversi agama pun berlangsung karena pengaruh pasar. Mengapa demikian?

Rosululloh saw sebelum memperoleh wahyu ALLOH, semula sebagai wirausahawan. Disiapkan sebelumnya dengan kehidupan yang bergumul dengan hiruk pikuk pasar, sejak usia dini, yaitu usia 8 tahun hingga dewasa 40 tahun. Selama 32 tahun, Muhammad berprofesi sebagai wirausahawan. Namun, dikarenakan wahyu ALLOH, pada usia 40 tahun, berubahlah menjadi Rosululloh saw. Berjuang mendakwahkan ajaran Islam selama 23 tahn.

Pengaruh berikutnya terhadap pengikutnya, menjadikan pasar sebagai medan niaga dan dakwah. Dari pasar, dibangun masjid. Dari masjid dibina generasi muda melalui lembag pendidikan, di Indonesia disebut pesantren. Kelanjutannya dari tuntutan komunitas Islam, melahirkan kekuasaan politik Islam atau kesultanan.

Istilah pasar berasal dari Timur Tengah dari kata bazaar. Sebelumnya, di Nusantara Indonesia tidak dikenal istilah tersebut. Karena pengaruh Islam dan kontak niaga dengan Timur Tengah, mulailah masuk istilah tersebut. Akibatnya, dikenal pula nama-nama pasar denga hari-hari Islam: Pasae Senin, Pasar Rabu, Pasar Kamis, Pasar Jum'at, Pasar Ahad.

Melalui pasar berkembanglah pula Bahasa Melayu Pasar sebagai bahasa komunikasi niaga dalam pasar. Demikian pula Huruf Arab Melayu menjadi dikenal di Nusantara Indonesia. Dampaknya dapat dipastikan, penguasa pasar dunia, pengendali pengaruh kekuasaan politik, dan penguasa media transportasi, serta pendidikan, membentuk budaya dan peradaban bangsa di dunia.

Dalam hal ini, mengapa Islam dari Timur Tengah berpengaruh besar dalam menciptakan perubahan budaya dan peradaban dunia, selama 800 tahun dari abad ke-7 hingga abad ke-15? Bagaimana dan dengan jalan apa yang ditempuh oleh para pejuang Islam, mengenalkan ajaran Islam menjadi tersebar ke seluruh dunia saat itu? Mengapa agama Islam disambut oleh masyarakat yang didatanginya sebagai agama pembebas?

Mungkinkah ajaran Islam dapat menyebar ke seluruh dunia, jika umat Islamnya tidak memiliki kesadaran kemaritiman. Sangat kontraduktif jika bangsa Arab yang tinggal di Jazirah Arabia, tidak memiliki kesadaran kebaharian. Tidakkah arti jazirah sebagai suatu wilayah yang dikelilingi oleh laut atau selat.

Sumber: Buku “Api Sejarah” karya Ahmad Mansur Suryanegara hal. 26-28

Jumat, 17 Januari 2014

Penguasaan Maritim, Pasar, Pesantren, dan Masjid

Kekuatan penyebaran Islam terletak pada (1) penguasaan pasar; (2) kemasjidan dan pendidikan; (3) kekuasaan politik atau kesultanan; (4) penguasaan maritim dengan niaga lautnya; (5) kesadaran Hukum Islam. Dari kelima masalah ini, masalah maritim atau kebaharian, jarang dituliskan sejarahnya, oleh para sejarawan Muslim sendiri.

Baik dalam pembahasan Sejarah Rosululloh saw, 611 – 632 M di Makkah dan Madinah. Menyusul Sejarah Khulafaur Rosyidin, 11 – 41 H/632 – 661 M, di Madinah, 11 – 36 H/632 – 656 M, dan Kufah, 36 – 41 H/656 – 661 M. Kemudian, sejarah Umaya I, 41 – 133 H/661 – 750 M, di Damaskus dan Umayah II, 139 – 423 H/756 – 1031 M, di Kordoba Syanyol. Abbasiyah, 133 – 656 H/750 – 1258 M, di Baghdad. Fathimiyah, 358 – 567 H/969 – 1171, di Kairo. Kesultanan Turki, 547 – 1343 H/1055 – 1924 M, di Angkara, dan Kesultanan Moghul di Delhi India, 1516 – 1854 M.

Ada pula sejarawan yang menuliskan Sejarah Islam Indonesia sebagai Sejarah Lokal. Tidak dinilai sebagai Sejarah Internasional. Walaupun perdagangan pada masa Islam telah mengadakan kontak dagang dengan pasar dunia. Atau dengan mengadakan kontak niaga dengan Cina, India, dan Timur Tengah serta Barat.

Dalam hal lawan politik Islam pun, musuh Islam adalah penjajah Barat. Dalam menghadapi perlawanan bersenjata terhadap penjajah Barat, Islam Indonesia berhadapan dengan kerajaan-kerajaan imperialis Barat, seperti Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, dan Inggris. Dengan adanya perlawanan bersenjata terhadap penjajah Barat tersebut, menjadikan perkembangan Sejarh Islam Indonesia, tidak dapat dinilai sebagai Sejarah Lokal, melainkan Sejarah Internasional.

Dampak lanjut pengaruh perjuangan umat Islam Indonesia, membangkitkan kesadaran kesamaan sejarah dan sekaligus membangkitkan kesadaran nasional. Para Ulama dan Santri berperan serta memimpin perlawanan bersenjata terhadap penjajah Barat. Dengan adanya kontak dengan Barat ini, periode Sejarah Islam Indonesia disebut sebagai Sejarah Modern Indonesia dan Sejara Modern ini terjadi pada masa Wali Songo.

Sumber: Buku "Api Sejarah" karya Ahmad Mansur Suryanegara

Jumat, 10 Januari 2014

Mata Uang Islam dan Rempah-rempah


sumber: Buku "Api Sejarah" karya Ahmad Mansur Suryanegara

Demikian pula dalam perkembangan niaga Islam ke Eropa, Inggris, dan Rusia sangat langka untuk memperoleh informasi sejarahnya secara benar. Padahal d wilayah ini ditemukan mata uang Islam tersebar di Rusia, Finlandia, Swedia, dan Norwegia. Terdapat juga peninggalan mata uang Islam di Inggris, Irlandia, dan Baltik, Skandinavia. Fakta ditemukanya mata uang Islam tersebut bukti bahwa betapa luasnya pengaruh ekonomi perdagangan dan budaya Islam yang terjadi pada abad ke-7 hingga abad ke-11 M di dunia Barat. Tidak berbeda tentang sejarah mata uang yang pernah dikeluarkan oleh Kesoeltanan Mataram Yogyakarta, Kesoeltanan Banten, dan lainnya, tidak pernah ditulis dalam buku sejarah.

Peran aktif wirausahawan Nusantara tidak tertuturkan sama sekali dalam dunia perniagaan internasional. Padahal, rempah-rempah yang diperdagangkan di pasar Eropa dihasilkan dari Nusantara Indonesia. Rempah-rempah itu juga merupakan komoditi perniagaan yang sangat penting dalam dunia niaga saat itu. Dampaknya, tempat dan jalan menuju ke pusat rempah-rempah dirahasiakan. Pengaruhnya, nama-nama kepulauan di Nusantara menjadi tidak disebutkan dalam penulisan sejarahnya.

Barangkali, hal ini pula yang mengakibatkan Barat belum memahami betapa luasnya Nusantara Indonesia. Mereka hanya memahami nama wilayah India dan Cina. Apa yang sebenarnya yang disebut dengan India, Barat, tidak juga mengetahuinya. Dampaknya, dalam perniagaan Barat terdapat banyak wilayah yang disebut dengan nama, India.

Barat baru memahami India dan Nusantara atau saat itu disebut sebagai kepulauan India, setelah memasuki abad ke-16. Artinya, setelah benar-benar Barat atau Keradjaan Katolik Portugis masuk ke anak benua India. Ternyata, setelah sampai ke India, baru disadari India bukan pusat rempah-rempah sebenarnya.

Barat masih merasa perlu melanjutkan penguasaan wilayah, menuju ke Nusantara Indonesia sebagai wilayah penghasil rempah-rempah sebenarnya. Dikuasainya Malaka, 1511, sebagai pusat pasar Islam di Asia Tenggara yang menyuplai kebutuhan rempah-rempah dan berbagai komoditi produk Asia, India, dan Cina untuk dipasarkan ke pasar-pasar Timur Tengah Eropa.

Setelah itu, Keradjaan Katolik Pootugis masih juga mencoba meluaskan wilayah penjajahannya dengan mendekati Kesoeltanan Tidore, Kesoeltanan Ternate, dan Kesoeltanan Ambon. Hal ini terjadi sebagai dampak dari realitas India bukan negara penghasil rempah-rempah yang dicarinya. Hanya Nusantara Indonesialah yang benar-benar negara asal penghasil rempah-rempah sebagai komoditi yang mengisi kebutuhan pasaran dunia. Di wilayah ini pula, ditemukan banyak wirausahawan Arab Muslim yang menguasai pemasaran rempah-rempah tersebut.

Sebagai catatan, J.C. van Leur dalam “Indonesian Trade and Society” - “Perniagaan Indonesia dan Masyarakatnya” menyatakan, Islam semula tidak memiliki lembaga dakwah khusus. Tetapi Islam mengajarkan setiap Muslim untuk dapat bertindak sebagai propagandis atau da'i yang menda'wahkan ajaran Islam, walaupun baru mengenal satu ayat. Oleh karena itu, wirausahawan Arab Muslim dan wirausahawan pribumi Muslim, menjadikan pasar-pasar di Nusantara Indonesia sebagai medan penyampaian ajaran Islam.

Pada umumnya sejarawan Barat sangat tahu tentang Yunani dan Romawi. Seolah-olah mereka tidak ma tau dari mana pasar Yunani dan Romawi memperoleh komoditi produk negara-negara Asia dan Timur Tengah. Sepertinya dengan sengaja mereka tidak mau menyebutkan penaran niaga Arabia. Mereka hanya memfokuskan perhatiannya ke India dan Cina.

Mungkinkah pasar Yunani dan Romawi yang berposisi di sebelah barat daya Mesir dan Arabia, dapat memiliki produk niaga dari Cina dan India, serta Nusantara Indonesia jika tanpa melalui pasar niaga di Arabia. Perlu dipahami, sebenarnya seluruh aktivitas perniagaan di Timur Tengah tidak dapat dilepaskan hubungan dengan aktivitas niaga di Arabia. Dengan kata lain, pasar Arabia merupakan media pasar-pasar antara Cina, India, Nusantara Indonesia dengan Timur Tengah lainnya serta dengan pasar di Eropa.

Jika saat itu barang dagangan yang sangat dibutuhkan oleh pasar dunia adalah rempah-rempah, dapat dipastikan pasar-pasar Nusantara Indonesia sangat besar peranannya dalam memenuhi tuntutan pasar dunia niaga tersebut. Oleh karena itu, melalui peran pasar-pasar ini pula, agama Islam masuk dan berkembang ke Nusantara.

Dari gambaran tersebut, ada problema penulisan sejarah Islam Indonesia. Dari segi waktu, dimundurkannya waktu masuk agama Islam, yaitu ketika Islam masih di pantai-pantai, pada abad ke-7 menjadi abad ke-13 M. Dikacaukan pengertiannya dengan perkembangan Islam setelah meluas ke pedalaman, dan telah berdiriny kekuasaan politik atau kesultanan abad ke-13 M dituliskan sebagai waktu awal masuknya agama Islam ke Nusantara.

Sabtu, 04 Januari 2014

Perebutan Kekuasaan Pasar

Apalagi dengan adanya upaya barat dalam mempertahankan penjajahannya, dengan mematahkan potensi pasar yang dikuasai umat Islam. Tidak hanya datang dengan memakai organisasi niaga, Verenigde Oost Indische Compagnie – VOC, dari Keradjaan Protestan Belanda, dan East Indian Company – EIC dari Keradjaan Protestan Anglikan Inggris, serta  Cmpagnie des Indes Orientales – CIO dari Keradjaan Katolik Perantjis. Namun juga berusaha keras untuk mematahkan kemampuan umat Islam dalam hal penguasaan pasar. Baik dalam pemasaran melalui jalan niaga laut dan maritim dan pemasaran di pasar daratan. Dengan kata lain, menciptakan holangnya kemauan umat Islam sebagai wirausahawan ataupun sebagai wiraniagawan. Ditumbuhkan keinginannya hana menjadi punggawa atau pegawai penjajah.

Dalam upaya menghilangkan kesadaran pemasaran dari umat Islam, yang demikian itu, penjajah Barat, berusaha pula menguasai sistem penulisan sejarah. Mengapa? Karena dari hasil penulisan sejarah, akan berdampak terbentukna citra dan opni masyarakat jajahan, tentang kisah masa lalu yang dibacanya. Ditargetkan dari hasil bacaannya akan menumbuhkan perubahan sistem keimanan dan tingkah laku sosial politik dan budaya selanjutnya, yang memihak penjajah.

Misalnya, Wali Sanga sebagai tokoh penyebar ajaran Islam, didistorsikan atau diselewengkan sejarahnya dengan penuturan dongengnya seperti tokoh Islam yang tidak mengenal syariat Islam. Ditururkan para Wali Sanga masih menjalankan ajaran Hindu. Masih melakukan bertapa atau berpuasa patigeni, tanpa makan sahur dan berbuka. Bertapa di gunung atau di hutan atau di pinggir kali dalam waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun hingga tak sempat lagi menjalankan sholat lima waktu.

Didongengkan juga karena Wali Sanga sebagai tokoh Islam yang sudah ma'rifat, tidak perlu menjalankan syariat Islam. Para Wali Sanga juga dituturkan sebagai pemimpin umat yang tidak memahami nilai-nilai kewiraniagaan atau kewirausahaan Islam. Wali Sanga sebagai ulama yang tingkah laku ibadahnya sama seperti Brahmana Hindoe dan Bhiksoe Boeddha tidak mengenal masalah niaga dan tidak mau menyebrang lautan.

Dengan kata lain, Wali Sanga didongengkan atas nama Islam, tetapi isi ajarannya tetap Hindoe atau Boeddha. Padahal, antara dongeng dan realita keaslian ajaran sejarahnya Wali Sanga tidak demikian. Mereka tetap sholat dan membangun Masjid seta melakukan perniagaan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rosululloh saw. Bahkan, Soenan Goenoeng Djati atau Sjarif Hidajatoellaah memimpin perlawanan bersenjata terhadap imperialis Keradjaan Katolik Portoegis guna merebut kembali pelabuhan niaga Jayakarta atau Jakarta, 22 Juni 1527 M, atau 22 Romadhon 933 H.

Dapatlah diperkirakan dampaknya terhadap masyarakat pembaca, penulisan Sejarah Wali Sanga yang demikian melahirkan aliran Kedjawen di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan di Jawa Barat, aliran Kesunden. Menolak ajaran syariat Islam yang bersumber AL-Qur'an dan As-Sunnah. Lebih mengutamakan “ajaran leluhur atau nenek moyang”. Kemudian tingkah laku berikutnya, meninggalkan ajaran Islam dan aktivitas pasarnya. Dampak yang demikian, menurut Lucian W. Pye dalam Southeast Asia's Political Systems, memang menjadi target dari strategi pemerintah kolonial Belanda.

Target lain yang diharapkan oleh pemerintah kolonial Belanda, hilangnya kesadaran umat Islam dalam menguasai pasar. Dengan demikian, pemerintah kolonial Belanda, melalui penulisan sejarah, dibantu oleh orang bayarannya, menuliskan sejarah Indonesia yang telah didistorsikan. Banyak ulama yang tidak menyadari bahwa penulisan sejarah dijadikan alat oleh penjajah untuk mengubah wawasan generasi muda Islam Indonesia tentang masa lalu perjuangan bangsa dan negaranya.

Bertolak dari pengalaman di Eropa, proses terjadinya perubahan pelaku pasar, penganut Katolik tidak mau lagi menjadi wirausahawan. Hal ini terjadi akibat Gereja melarang orangnya di pasar karena Tuhan lebih menyukai orang-orangnya yang di Gereja.Dampak ajaran yang demikian, pasar menjadi kosong dari orang Nasrani. Kemudian, pelaku pasarnya digantikan oleh orang Yahudi.

Hal ini dapat dibaca dari keterangan Robert L. Heilbroner, dalam The Making of Economic Society, dikutipkan ajaran gereja yang berbunyi, “Homo mercator vix out numquam Deo placere potest” - wirausahawan sangat langka ata tidak pernah disukai Tuhan. Dari ajaran yang demikian ini mengakibatkan pasar ditinggalkan.

Dengan cara yang sama, disebarkan “ajaran Islam” dengan muatan isi yang sama, melalui Hadits yang dipalsukan bahwa ALLOH menyukai orang-orang di Masjid daripada di pasar. Dampaknya, secara perlahan-lahan, patahlah budaya niaga dan kesadaran upaya penguasaan pasar oleh kalangan pribumi.

Terjadilah kekosongan pasar dan digantikan oleh kelompok Vreemde Oosterligen – Bangsa Timur Asing: Cina,  India, dan Arab. Diciptakan kebijakan yang bersifat diskriminasi rasial, kalangan Vreem de Oosterlingen tersebut di mata penjajah menjadi warga negara kelas dua. Dengan disertai pemberian kewenangan memegang monopoli. Sebaliknya, pribumi Islam menjadi warga negara kelas tiga. Pasarnya disita serta kekuasaan ekonominya dipatahkan, pribumi Islam menjadi sangat terbelakang.

Dalam penulisan sejarah yang didistorsikan pada masa penjajahan Belanda oleh para penulis, tidak tergambarkan adanya jalinan hubungan niaga antara Cina dengan Arab dan antara India dengan Arab. Padahal, suda pernah terjalin hubungan niaga sejak 500 SM, melalui jalan darat yang dikenal dengan jalan sutera. Jalan perniagaan laun antara India, Cina dan Nusantara Indonesia, menurut Prof. Dr. D.H. Burger dan Prof. Dr. Mr. Prajudi, dalam Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, telah terjalin sejak abad pertama sebelum masehi.

Sumber: Buku "Api Sejarah" karya Ahmad Mansur Suryanegara.