Sulaiaman
as-Sirafi, wirausahawan Muslim dari Persia yang pernah mengunjungi
Timur Jauh mengatakan bahwa pada abad kedua Hijriyah, di Sula atau
Sulawesi terdapat wirausahawan atau pedagang Muslim. Hal ini dapat
dipastikan, sebelum mencapai Maluku, singgah terlebih dahulu di
Sulawesi. Adapun perdagangan utama di Indonesia Timur saat itu adalah
rempah-rempah dan wangi-wangian. Kedua komoditi tersebut terdapat di
Maluku dan sekitarnya. Keduanya sangat menarik pedagang-pedagang
Islam atau wirausahawan Muslim dari Timur Tengah. Keterangan atau
sumber sejarah ini hampir langka digunakan oleh para sejarawan.
Timbullah
pertanyaan, mengapa nama-nama pulau di Indonesia yang letaknya jauh
dari Arab, menggunakan nama yang berasal dari bahasa Arab. Jawabannya
hal ini memberikan gambaran betapa besarnya pengaruh Islam terhadap
penamaan peta dunia dan Nusantara di dalamnya. Dengan kata lain, jauh
sebelum Barat pada abad ke-16 mulai terampil sebagai imperialis,
terlebih dahulu Islam melahirkan cendikiawan Muslim, termasuk pakar
geografi dalam pembuatan peta bumi.
Nama-nama
pulau, samudra, semenanjung, bukit, semula menggunakan istilah atau
nama dengan bahasa Arab. Misalnya “Gibraltar” semula “Jabal
Thoriq”. Hal ini terjadi karena peta bumi diciptakan oleh pakar
geografi Muslim Arab. Dengan adanya nama-nama berbahasa Arab
memberikan gambaran betapa luasnya daerah pengaruh Islam pada masa
lalu hingga memasuki Eropa. Akibatnya, di Nusantara Indonesia pun,
terdapat nama-nama wilayah darat dan laut atau danau yang berbahasa
Arab.
Misalnya
“Jazirah Maluku” disebut demikian karena berasal dari “Jazirah
al-Muluk”. Di Jazirah atau wilayah yang dikelilingi laut tersebut,
dikuasai oleh para raja atau “al-muluk”. Pulau Sumatra disebut
pula dengan Andalusia, asrtinya memiliki keindahan dan kesuburan,
sama dengan Spanyol karena itu disebut sebagai Andalusia oleh
Mu'awiyyah. Danau Toba berasal dari “Thoyyiba” artinya indah
dalam bahasa Arab.
Dengan
banyaknya nama wilayah berbahasa Arab dan banyaknya daerah hunian
wirausahawan Islam dari Banda Aceh hingga pulau Banda sebagai bukti
Nusantara Indonesia sudah mengadakan hubungan niaga dengan Arabia.
Namun, dalam penulisan Sejarah Indonesia pada masa pemerintahan
kolonial Belanda sering disebut sebatas hubungan niaga Timur Tengah
dengan India dan Cina, tanpa disebutkan Nusantara Indonesia. Hal ini
sebagai dampak dari sistem penulisan sejarah yang berdasar “Neerlando
Sentrisme” ditulis dari sudut pandang dan peran Belanda.
Sebenarnya,
mungkinkah hubungan niaga yang demikian itu tanpa melalui Nusantara
Indonesia. Jika komoditi yang diperdagangkan saat itu adalah
rempah-rempah, dan Nusantara Indonesia sebagai wilayah pemasok dan
penghasil rempah-rempah yang orisinal. Mungkinkah terjadi jaringan
niaga rempah-rempah tanpa melalui Nusantara Indonesia.
Realitas
fakta dari nama-nama tempat yang menggunakan bahasa Arab, memandu
bagi yang mempertanyakan dari mana datangnya agama Islam yang masuk
ke Nusantara. Jika benar agama Islam berasal dari Gujarat India
seperti yang dituturkan oleh Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje, tentu
banyak pulau atau wilayah lain yang penting ditemukan daerah hunian
pedagang Gujarat.
Namun,
dalam kenyataan catatan sejarah, di kota-kota besar di Jawa ataupun
di luar pulau Jawa hingga pulau Banda terdapat banyak pedagang Arab.
Sebaliknya, sangat langka adanya wilayah hunian pedagan Gujarat,
tidak dapat diragukan lagi di Nusantara dan dunia pada umumnya
ditemukan fakta dan data justru adanya banyak pedagang atau
wirausahawan Cina.
Untuk
dapat memahami masuknya agama Islam melalui jalan niaga yang
berdampak terjadinya berbagai perubahan kemasyarakatan di Nusantara
Indonesia, terlebih dahulu dibahas tentang terjadinya perubahan besar
secara totalitas masyarakat Timur Tengah akibat adanya kebangkitan
Islam. Suatu perubahan besar yang menjadikan Islam yang diajarkan
oleh Rosululloh saw sebagai contoh terbaik - “uswatun hasanah”
yang berhasil menciptakan dan mengaplikasikan perubahan hukum,
sosial, ekonomi, politik, budaya, serta ketahanan dan pertahanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar