Jumat, 14 Februari 2014

Nusantara dalam Pandangan Pakar Peta Bumi Muslim

Sulaiaman as-Sirafi, wirausahawan Muslim dari Persia yang pernah mengunjungi Timur Jauh mengatakan bahwa pada abad kedua Hijriyah, di Sula atau Sulawesi terdapat wirausahawan atau pedagang Muslim. Hal ini dapat dipastikan, sebelum mencapai Maluku, singgah terlebih dahulu di Sulawesi. Adapun perdagangan utama di Indonesia Timur saat itu adalah rempah-rempah dan wangi-wangian. Kedua komoditi tersebut terdapat di Maluku dan sekitarnya. Keduanya sangat menarik pedagang-pedagang Islam atau wirausahawan Muslim dari Timur Tengah. Keterangan atau sumber sejarah ini hampir langka digunakan oleh para sejarawan.

Timbullah pertanyaan, mengapa nama-nama pulau di Indonesia yang letaknya jauh dari Arab, menggunakan nama yang berasal dari bahasa Arab. Jawabannya hal ini memberikan gambaran betapa besarnya pengaruh Islam terhadap penamaan peta dunia dan Nusantara di dalamnya. Dengan kata lain, jauh sebelum Barat pada abad ke-16 mulai terampil sebagai imperialis, terlebih dahulu Islam melahirkan cendikiawan Muslim, termasuk pakar geografi dalam pembuatan peta bumi.

Nama-nama pulau, samudra, semenanjung, bukit, semula menggunakan istilah atau nama dengan bahasa Arab. Misalnya “Gibraltar” semula “Jabal Thoriq”. Hal ini terjadi karena peta bumi diciptakan oleh pakar geografi Muslim Arab. Dengan adanya nama-nama berbahasa Arab memberikan gambaran betapa luasnya daerah pengaruh Islam pada masa lalu hingga memasuki Eropa. Akibatnya, di Nusantara Indonesia pun, terdapat nama-nama wilayah darat dan laut atau danau yang berbahasa Arab.

Misalnya “Jazirah Maluku” disebut demikian karena berasal dari “Jazirah al-Muluk”. Di Jazirah atau wilayah yang dikelilingi laut tersebut, dikuasai oleh para raja atau “al-muluk”. Pulau Sumatra disebut pula dengan Andalusia, asrtinya memiliki keindahan dan kesuburan, sama dengan Spanyol karena itu disebut sebagai Andalusia oleh Mu'awiyyah. Danau Toba berasal dari “Thoyyiba” artinya indah dalam bahasa Arab.

Dengan banyaknya nama wilayah berbahasa Arab dan banyaknya daerah hunian wirausahawan Islam dari Banda Aceh hingga pulau Banda sebagai bukti Nusantara Indonesia sudah mengadakan hubungan niaga dengan Arabia. Namun, dalam penulisan Sejarah Indonesia pada masa pemerintahan kolonial Belanda sering disebut sebatas hubungan niaga Timur Tengah dengan India dan Cina, tanpa disebutkan Nusantara Indonesia. Hal ini sebagai dampak dari sistem penulisan sejarah yang berdasar “Neerlando Sentrisme” ditulis dari sudut pandang dan peran Belanda.

Sebenarnya, mungkinkah hubungan niaga yang demikian itu tanpa melalui Nusantara Indonesia. Jika komoditi yang diperdagangkan saat itu adalah rempah-rempah, dan Nusantara Indonesia sebagai wilayah pemasok dan penghasil rempah-rempah yang orisinal. Mungkinkah terjadi jaringan niaga rempah-rempah tanpa melalui Nusantara Indonesia.

Realitas fakta dari nama-nama tempat yang menggunakan bahasa Arab, memandu bagi yang mempertanyakan dari mana datangnya agama Islam yang masuk ke Nusantara. Jika benar agama Islam berasal dari Gujarat India seperti yang dituturkan oleh Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje, tentu banyak pulau atau wilayah lain yang penting ditemukan daerah hunian pedagang Gujarat.

Namun, dalam kenyataan catatan sejarah, di kota-kota besar di Jawa ataupun di luar pulau Jawa hingga pulau Banda terdapat banyak pedagang Arab. Sebaliknya, sangat langka adanya wilayah hunian pedagan Gujarat, tidak dapat diragukan lagi di Nusantara dan dunia pada umumnya ditemukan fakta dan data justru adanya banyak pedagang atau wirausahawan Cina.

Untuk dapat memahami masuknya agama Islam melalui jalan niaga yang berdampak terjadinya berbagai perubahan kemasyarakatan di Nusantara Indonesia, terlebih dahulu dibahas tentang terjadinya perubahan besar secara totalitas masyarakat Timur Tengah akibat adanya kebangkitan Islam. Suatu perubahan besar yang menjadikan Islam yang diajarkan oleh Rosululloh saw sebagai contoh terbaik - “uswatun hasanah” yang berhasil menciptakan dan mengaplikasikan perubahan hukum, sosial, ekonomi, politik, budaya, serta ketahanan dan pertahanan.

Sumber: Buku “Api Sejarah” karya Ahmad Mansur Suryanegara, terbitan Salamadani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar