Mengapa Islam dari Timur Tengah
berpengaruh besar dalam menciptakan perubahan budaya dan peradaban
dunia, selama 800 tahun dari abad ke-7 hingga abad ke-15? Bagaimana
dan dengan jalan apa yang ditempuh oleh para pejuang Islam,
mengenalkan ajaran Islam menjadi tersebar ke seluruh dunia saat itu?
Mengapa agama Islam disambut oleh masyarakat yang didatanginya
sebagai agama pembebas?
Mungkinkah ajaran Islam dapat menyebar
ke seluruh dunia, jika umat Islamnya tidak memiliki kesadaran
kemaritiman? Sangat kontraduktif jika bangsa Arab yang tinggal di
Jazirah Arabia, tidak memiliki kesadaran kebaharian. Tidakkah arti
jazirah sebagai suatu wilayah yang dikelilingi oleh laut atau selat.
* * *
Rosululloh saw memberikan jawaban yang
tepat terhadap problema di atas. Ketandusan Jazirah Arabia dijawab
oleh Rosululloh saw dengan 40 ayat tentang lautan atau maritim. Di
dalamnya, bermuatan “wawasan politik kelautan” yang termaktub
dalam al-Qur'an.
Mengajarkan bahwa ALLOH telah
menyerahkan penguasaan lautan kepada umat Islam. Realitas duni 71%
terdiri dari lautan dan samudra. Jalan apa yang harus dipilih oleh
umat Islam dalam mendakwahkan ajaran Islam ke seluruh dunia.
Nusantara Indonesia sebagai negara kepulauan dan produsen
rempah-rempah, tersekat jauh antar-pulau dan dengan Timur Tengah,
India, dan Cina oleh lautan dan samudra yang luas. Tidak ada pilihan
lain kecuali melalui jalan laut niaga.
Nusantara Indonesia sebagai nusa
kepulauan yang terbuka dan terletak di antara benua dan samudra.
Segenap kemajuan agama yang terjadi di luar, akan masuk dan mengubah
sistem kehidupan di Nusantara Indonesia. Agama Hindu dan Budha yang
berasal dari India, masuk ke Nusantara melahirkan perubahan tatanan
budaya dan menumbuhkan “political authority” - kekuasaan politik
atau kerajaan Hindu dan Budha. Misalnya Keradjaan Hindoe Padjadjaran,
Singosari, Kediri, Madjapahit, dan Keradjaan Boedha Sailendra dan
Sriwidjaja.
Kembali ke masalah agama Islam yang
merakyat ajarannya, tidak mengenal adanya stratifikasi sosial yang
didasarkan kasta. Diterima oleh rakyat di Nusantara Indonesia sebagai
“liberating forces” - kekuatan pembebas. Melepaskan manusia dari
pengklasifikasian abadi berdasarkan kasta yang tidak dapat diubah
karena dasar pembagian kasta berdasarkan “hereditas” –
keturunan darah.
Islam memberikan semangat kehidupan
dengan menciptakan ekonomi terbuka melalui pasar. Sistem ini
melahirkan sistem sosial terbuka - “open society”. Artinya setiap
individu terbuka untuk memperoleh kesempatan mengubah jenjang
sosialnya, dengan “social climbing” - pendakian sosial. Melalui
prestasi kerjanya - “achieved status”. Masyarakat Islam
sebenarnya hampir tidak mendasarkan pada “ascribed status” -
kedudukan sosial yang diperolehnya atas dasar keturunan - “hereditas”
kecuali kedudukan Sultan atau Raja.
Islam masuk ke Nusantara Indonesia
melalui gerbang pasar yang disebarkan para wirausahawan yang
merangkap sebagai juru dakwah. Menurut Prof. Dr. D.H. Burger dan
Prof. Dr. Mr. Prajudi, dalam Sedjarah Ekonomis Sosiologi Indonesia,
Djilid Pertama, menyatakan Islam di Indonesia dikembangkan dengan
jalan damai dan tidak disertai dengan invasi militer.
Dengan dana pribadi dan penguasaan
transportasi kelautan serta penguasaan pasar, menjadikan Islam secara
cepat tersebar ke seluruh kepulauan Nusantara Indonesia.
Pengembangannya melibatkan setiap Muslim dengan keragaman profesinya,
yang merasa terpanggil kesadaran agamanya, menjadi da'i dengan metode
yang sejalan dengan profesinya.
Artinya pedagang dengan bahasa
niaganya, nelayan dengan pendekatan nelayannya, bangsawan dengan
bahasa struktural keningratannya, dan seterusnya. Rosululloh saw
mengajarkan, “Sampaikanlah ajaran yang berasal dariku, walaupun
baru satu ayat” - Blighu ani walau ayah. Artinya setiap Muslim
berkewajiban untuk berperan aktif, ikut serta sebagai penyebar ajaran
Islam yang bersumber dari wahyu. Dengan cara demikian, Islam cepat
menyebar dan berdampak mayoritas bangsa Indonesia memeluk Islam
sebagai agamanya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika
kesaksian sejarah dari catatan wirausahawan dapat pula dijadikan
sember penulisan sejarah.
Sumber: Buku “Api Sejarah” karya
Ahmad Mansur Suryanegara terbitan Salamadani hal.28-30.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar