Jumat, 10 Januari 2014

Mata Uang Islam dan Rempah-rempah


sumber: Buku "Api Sejarah" karya Ahmad Mansur Suryanegara

Demikian pula dalam perkembangan niaga Islam ke Eropa, Inggris, dan Rusia sangat langka untuk memperoleh informasi sejarahnya secara benar. Padahal d wilayah ini ditemukan mata uang Islam tersebar di Rusia, Finlandia, Swedia, dan Norwegia. Terdapat juga peninggalan mata uang Islam di Inggris, Irlandia, dan Baltik, Skandinavia. Fakta ditemukanya mata uang Islam tersebut bukti bahwa betapa luasnya pengaruh ekonomi perdagangan dan budaya Islam yang terjadi pada abad ke-7 hingga abad ke-11 M di dunia Barat. Tidak berbeda tentang sejarah mata uang yang pernah dikeluarkan oleh Kesoeltanan Mataram Yogyakarta, Kesoeltanan Banten, dan lainnya, tidak pernah ditulis dalam buku sejarah.

Peran aktif wirausahawan Nusantara tidak tertuturkan sama sekali dalam dunia perniagaan internasional. Padahal, rempah-rempah yang diperdagangkan di pasar Eropa dihasilkan dari Nusantara Indonesia. Rempah-rempah itu juga merupakan komoditi perniagaan yang sangat penting dalam dunia niaga saat itu. Dampaknya, tempat dan jalan menuju ke pusat rempah-rempah dirahasiakan. Pengaruhnya, nama-nama kepulauan di Nusantara menjadi tidak disebutkan dalam penulisan sejarahnya.

Barangkali, hal ini pula yang mengakibatkan Barat belum memahami betapa luasnya Nusantara Indonesia. Mereka hanya memahami nama wilayah India dan Cina. Apa yang sebenarnya yang disebut dengan India, Barat, tidak juga mengetahuinya. Dampaknya, dalam perniagaan Barat terdapat banyak wilayah yang disebut dengan nama, India.

Barat baru memahami India dan Nusantara atau saat itu disebut sebagai kepulauan India, setelah memasuki abad ke-16. Artinya, setelah benar-benar Barat atau Keradjaan Katolik Portugis masuk ke anak benua India. Ternyata, setelah sampai ke India, baru disadari India bukan pusat rempah-rempah sebenarnya.

Barat masih merasa perlu melanjutkan penguasaan wilayah, menuju ke Nusantara Indonesia sebagai wilayah penghasil rempah-rempah sebenarnya. Dikuasainya Malaka, 1511, sebagai pusat pasar Islam di Asia Tenggara yang menyuplai kebutuhan rempah-rempah dan berbagai komoditi produk Asia, India, dan Cina untuk dipasarkan ke pasar-pasar Timur Tengah Eropa.

Setelah itu, Keradjaan Katolik Pootugis masih juga mencoba meluaskan wilayah penjajahannya dengan mendekati Kesoeltanan Tidore, Kesoeltanan Ternate, dan Kesoeltanan Ambon. Hal ini terjadi sebagai dampak dari realitas India bukan negara penghasil rempah-rempah yang dicarinya. Hanya Nusantara Indonesialah yang benar-benar negara asal penghasil rempah-rempah sebagai komoditi yang mengisi kebutuhan pasaran dunia. Di wilayah ini pula, ditemukan banyak wirausahawan Arab Muslim yang menguasai pemasaran rempah-rempah tersebut.

Sebagai catatan, J.C. van Leur dalam “Indonesian Trade and Society” - “Perniagaan Indonesia dan Masyarakatnya” menyatakan, Islam semula tidak memiliki lembaga dakwah khusus. Tetapi Islam mengajarkan setiap Muslim untuk dapat bertindak sebagai propagandis atau da'i yang menda'wahkan ajaran Islam, walaupun baru mengenal satu ayat. Oleh karena itu, wirausahawan Arab Muslim dan wirausahawan pribumi Muslim, menjadikan pasar-pasar di Nusantara Indonesia sebagai medan penyampaian ajaran Islam.

Pada umumnya sejarawan Barat sangat tahu tentang Yunani dan Romawi. Seolah-olah mereka tidak ma tau dari mana pasar Yunani dan Romawi memperoleh komoditi produk negara-negara Asia dan Timur Tengah. Sepertinya dengan sengaja mereka tidak mau menyebutkan penaran niaga Arabia. Mereka hanya memfokuskan perhatiannya ke India dan Cina.

Mungkinkah pasar Yunani dan Romawi yang berposisi di sebelah barat daya Mesir dan Arabia, dapat memiliki produk niaga dari Cina dan India, serta Nusantara Indonesia jika tanpa melalui pasar niaga di Arabia. Perlu dipahami, sebenarnya seluruh aktivitas perniagaan di Timur Tengah tidak dapat dilepaskan hubungan dengan aktivitas niaga di Arabia. Dengan kata lain, pasar Arabia merupakan media pasar-pasar antara Cina, India, Nusantara Indonesia dengan Timur Tengah lainnya serta dengan pasar di Eropa.

Jika saat itu barang dagangan yang sangat dibutuhkan oleh pasar dunia adalah rempah-rempah, dapat dipastikan pasar-pasar Nusantara Indonesia sangat besar peranannya dalam memenuhi tuntutan pasar dunia niaga tersebut. Oleh karena itu, melalui peran pasar-pasar ini pula, agama Islam masuk dan berkembang ke Nusantara.

Dari gambaran tersebut, ada problema penulisan sejarah Islam Indonesia. Dari segi waktu, dimundurkannya waktu masuk agama Islam, yaitu ketika Islam masih di pantai-pantai, pada abad ke-7 menjadi abad ke-13 M. Dikacaukan pengertiannya dengan perkembangan Islam setelah meluas ke pedalaman, dan telah berdiriny kekuasaan politik atau kesultanan abad ke-13 M dituliskan sebagai waktu awal masuknya agama Islam ke Nusantara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar