sumber: Buku "Api Sejarah" karya Ahmad Mansur Suryanegara
Demikian pula dalam perkembangan niaga
Islam ke Eropa, Inggris, dan Rusia sangat langka untuk memperoleh
informasi sejarahnya secara benar. Padahal d wilayah ini ditemukan
mata uang Islam tersebar di Rusia, Finlandia, Swedia, dan Norwegia.
Terdapat juga peninggalan mata uang Islam di Inggris, Irlandia, dan
Baltik, Skandinavia. Fakta ditemukanya mata uang Islam tersebut bukti
bahwa betapa luasnya pengaruh ekonomi perdagangan dan budaya Islam
yang terjadi pada abad ke-7 hingga abad ke-11 M di dunia Barat. Tidak
berbeda tentang sejarah mata uang yang pernah dikeluarkan oleh
Kesoeltanan Mataram Yogyakarta, Kesoeltanan Banten, dan lainnya,
tidak pernah ditulis dalam buku sejarah.
Peran aktif wirausahawan Nusantara
tidak tertuturkan sama sekali dalam dunia perniagaan internasional.
Padahal, rempah-rempah yang diperdagangkan di pasar Eropa dihasilkan
dari Nusantara Indonesia. Rempah-rempah itu juga merupakan komoditi
perniagaan yang sangat penting dalam dunia niaga saat itu. Dampaknya,
tempat dan jalan menuju ke pusat rempah-rempah dirahasiakan.
Pengaruhnya, nama-nama kepulauan di Nusantara menjadi tidak
disebutkan dalam penulisan sejarahnya.
Barangkali, hal ini pula yang
mengakibatkan Barat belum memahami betapa luasnya Nusantara
Indonesia. Mereka hanya memahami nama wilayah India dan Cina. Apa
yang sebenarnya yang disebut dengan India, Barat, tidak juga
mengetahuinya. Dampaknya, dalam perniagaan Barat terdapat banyak
wilayah yang disebut dengan nama, India.
Barat baru memahami India dan Nusantara
atau saat itu disebut sebagai kepulauan India, setelah memasuki abad
ke-16. Artinya, setelah benar-benar Barat atau Keradjaan Katolik
Portugis masuk ke anak benua India. Ternyata, setelah sampai ke
India, baru disadari India bukan pusat rempah-rempah sebenarnya.
Barat masih merasa perlu melanjutkan
penguasaan wilayah, menuju ke Nusantara Indonesia sebagai wilayah
penghasil rempah-rempah sebenarnya. Dikuasainya Malaka, 1511, sebagai
pusat pasar Islam di Asia Tenggara yang menyuplai kebutuhan
rempah-rempah dan berbagai komoditi produk Asia, India, dan Cina
untuk dipasarkan ke pasar-pasar Timur Tengah Eropa.
Setelah itu, Keradjaan Katolik Pootugis
masih juga mencoba meluaskan wilayah penjajahannya dengan mendekati
Kesoeltanan Tidore, Kesoeltanan Ternate, dan Kesoeltanan Ambon. Hal
ini terjadi sebagai dampak dari realitas India bukan negara penghasil
rempah-rempah yang dicarinya. Hanya Nusantara Indonesialah yang
benar-benar negara asal penghasil rempah-rempah sebagai komoditi yang
mengisi kebutuhan pasaran dunia. Di wilayah ini pula, ditemukan
banyak wirausahawan Arab Muslim yang menguasai pemasaran
rempah-rempah tersebut.
Sebagai catatan, J.C. van Leur dalam
“Indonesian Trade and Society” - “Perniagaan Indonesia dan
Masyarakatnya” menyatakan, Islam semula tidak memiliki lembaga
dakwah khusus. Tetapi Islam mengajarkan setiap Muslim untuk dapat
bertindak sebagai propagandis atau da'i yang menda'wahkan ajaran
Islam, walaupun baru mengenal satu ayat. Oleh karena itu,
wirausahawan Arab Muslim dan wirausahawan pribumi Muslim, menjadikan
pasar-pasar di Nusantara Indonesia sebagai medan penyampaian ajaran
Islam.
Pada umumnya sejarawan Barat sangat
tahu tentang Yunani dan Romawi. Seolah-olah mereka tidak ma tau dari
mana pasar Yunani dan Romawi memperoleh komoditi produk negara-negara
Asia dan Timur Tengah. Sepertinya dengan sengaja mereka tidak mau
menyebutkan penaran niaga Arabia. Mereka hanya memfokuskan
perhatiannya ke India dan Cina.
Mungkinkah pasar Yunani dan Romawi yang
berposisi di sebelah barat daya Mesir dan Arabia, dapat memiliki
produk niaga dari Cina dan India, serta Nusantara Indonesia jika
tanpa melalui pasar niaga di Arabia. Perlu dipahami, sebenarnya
seluruh aktivitas perniagaan di Timur Tengah tidak dapat dilepaskan
hubungan dengan aktivitas niaga di Arabia. Dengan kata lain, pasar
Arabia merupakan media pasar-pasar antara Cina, India, Nusantara
Indonesia dengan Timur Tengah lainnya serta dengan pasar di Eropa.
Jika saat itu barang dagangan yang
sangat dibutuhkan oleh pasar dunia adalah rempah-rempah, dapat
dipastikan pasar-pasar Nusantara Indonesia sangat besar peranannya
dalam memenuhi tuntutan pasar dunia niaga tersebut. Oleh karena itu,
melalui peran pasar-pasar ini pula, agama Islam masuk dan berkembang
ke Nusantara.
Dari gambaran tersebut, ada problema
penulisan sejarah Islam Indonesia. Dari segi waktu, dimundurkannya
waktu masuk agama Islam, yaitu ketika Islam masih di pantai-pantai,
pada abad ke-7 menjadi abad ke-13 M. Dikacaukan pengertiannya dengan
perkembangan Islam setelah meluas ke pedalaman, dan telah berdiriny
kekuasaan politik atau kesultanan abad ke-13 M dituliskan sebagai
waktu awal masuknya agama Islam ke Nusantara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar